Etika ketika Mencari Ilmu

Etika pelajar dalam menghormati ilmu itu sama dengan menghormati guru. Saya jadi teringat suatu syair dari Sayyidina Ali ra. “Aku adalah hamba sahaya bagi orang-orang yang mengajarku walaupun satu huruf saja. Bila ia bermaksud menjualku, maka ia bisa menjualku. Bila ia bermaksud memerdekakanku, maka ia bisa memerdekakanku dan bila ia bermaksud memperbudakku, maka ia bisa memperbudakku,” kata beliau.

Memang, bisa mendapat ilmu meskipun satu huruf itu akan membawa dampak yang bisa lebih dari luar biasa. Orang yang mengajar meski hanya satu huruf saja, diibaratkan dia sudah menjadi ayah baginya. Terlebih apabila kita mendapatkan ilmu yang terdiri dari banyak bab dan terstruktur. Maka sang pengajar, yaitu bapak dan ibu guru, sudah menjadi ayah dan ibu kita pada saat itu. Ingat, guru adalah pengganti orang tua kita ketika di sekolah.

Namun, seorang pencari ilmu harus benar dalam memilih guru. Ada etika tersendiri dalam memilih guru demi kebaikan ilmu yang didapat. Guru yang baik adalah orang yang lebih pandai, wara’ (orang yang menjauhi dosa, tidak lemah, tidak lunak hati, dan tidak penakut), dan kalau bisa harus lebih tua.

Sebagaimana cerita saat Abu Hanifah ketika memilih Imam Hammad bin Sulaiman sebagai gurunya. Setelah melalui pertimbangan dan pemikiran, ia berkata satu hal.”Saya mengenalnya sebagai orang tua yang berbudi luhur, bijak dan penyebar dan saya memutuskan untuk memilih Imam Hammad bin Sulaiman. Ternyata saya dapat berkembang,” katanya.

Lantas dalam etika menghormati guru adalah tidak kencang berjalan di depannya, tidak duduk di tempatnya, dan tidak memulai percakapan dengannya kecuali atas izinnya. Tak hanya itu, sebagai murid juga selayaknya tidak memperbanyak omongan di sisinya, tidak menanyakan sesuatu ketika ia sudah bosan. Dan menjaga waktu serta tidak mengetuk pintu rumah atau kamarnya, tetapi harus menunggu sampai ia keluar.

Sehingga kalau disimpulkan, seorang murid bila ingin benar-benar ilmunya bisa barokah dan bermanfaat itu harus berusaha mendapatkan ridho-nya guru. Seperti menghindari kemurkaannya, bersabar dan patuh kepadanya selain dalam perbuatan maksiat kepada Allah SWT. Sebab tidak boleh patuh kepada makhluk untuk melakukan perbuatan maksiat kepada Sang Pencipta.

Kemudian, selain menghormati guru, yang termasuk etika dalam menghormati ilmu adalah menghormati teman dan orang yang memberikan pelajaran. Pertalian dan ketergantungan adalah sikap yang tercela kecuali dalam rangka menuntut ilmu. Maka sebaiknya mengikat pertalian dan ketergantungan itu dengan guru dan teman belajar saja.

Pernah saya mendengar seorang pelajar telah belajar ilmu itu sampai seribu kali. Lantas bagaimana menyikapinya? Diungkapkan dalam sebuah syair, bahwa barang siapa bersikap tidak respek atau hormat kepada ilmu meskipun telah mendengarnya sampai seribu kali, maka bukanlah ia seorang ahli ilmu.

Maka sebagai seseorang yang masih belajar, beretika untuk menghormati dan mengharap barokah dari ilmu itu sangatlah penting. Harus dimulai sejak kita menerima ilmu pertama kali. Yaitu dari orang tua di rumah, guru sekolah dan teman saat belajar bersama. Maka ilmu yang kita miliki dan pelajari pasti senantiasa akan menjadi penolong saat kita dalam musibah. Amin.source :http://its.ac.id/berita.php?nomer=11476

Akhmadi
Mahasiswa jurusan Desain Produk Industri – ITS Surabaya
Angkatan 2012

Comments are closed.