FATEPA latih masyarakat deteksi makanan berformalin

img-fatepaMataram- Masyarakat belakangan kerap diresahkan dengan hadirnya bahan-bahan pangan berbahaya yang beredar luas, salah satunya dalam bentuk makanan berformalin ataupun mengandung boraks. Melihat hal ini, Tim Dosen Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram merasa masyarakat perlu dilatih untuk mengenal dan mendeteksi jenis-jenis makanan berbahaya agar tidak dikonsumsi.

Hal tersebut merupakan salah satu agenda dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan di Dusun Kerujuk, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Jumat 14 Oktober 2016. Kegiatan pengabdian tersebut merupakan rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-54 Universitas Mataram.

Dekan Fatepa Prof Ir Sri Widyastuti, MAppSc, Ph.D  yang memimpin tim Unram memaparkan empat agenda yang dilakukan oleh Fakultas yang dipimpinnya, yakni pengolahan limbah menjadi energi alternatif dengan memperkenalkan masyarakat mengolah kotoran ternak menjadi biogas, selanjutnya adalah deteksi bahan pangan yang terkontaminasi boraks atau formalin.

Masyarakat diajarkan cara mudah dan murah mendeteksi makanan yang tekontaminasi bahan-bahan berbahaya. Cara nya menggunakan stik yang dicelupkan ke kunyit segar yang telah dihaluskan. Kemudian, stik tersebut dicelupkan ke bahan makanan. Bila warna stik berubah warna menjadi merah, maka makanan tersebut teridentifikasi mengandung boraks dan jika berwarna ungu teridentifikasi mengandung bahan pengawet formalin. “Masyarakat jadi bisa mengenal bahan makanan yang aman dikonsumsi,” ujar Prof. Ir. Sri Widyastuti, M.App.Sc., Ph.D.

Selain itu, tim Fatepa juga memberikan pelatihan pengolahan dan peningkatan mutu nira. Dosen Fatepa Ir Zainuri, MAppSc, Ph.D mengemukakan bahwa ketahanan nira atau tuak manis mentah sangat terbatas. “Kurang dari 12 jam,” tuturnya.

Nuri sapaan akrabnya melanjutkan, nira bisa diolah hingga bisa bertahan lebih lama. Proses pengolahannya pun cukup sederhana. Nira bisa dicampur dengan gula manis, jahe, dan bensoat, kemudian dimasak hingga mendidih dan disterilisasi serta dikemas dalam bentuk botolan.

“Bisa bertahan seminggu di luar, atau sebulan di dalam (pendingin-red),” jelasnya. Agenda terakhir yang dilakukan adalah teknik pengolahan empon-empon. Mereka diajarkan cara mengelola empon-empon secara instan.

Pelaksanaan kegiatan pengabdian FATEPA dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan jenis kegiatan. Setiap kelompok diikuti puluhan orang. Rektor Universitas Mataram Ir. Sunarpi, Ph.D yang turut hadir dalam kegiatannya tersebut mengharapkan masyarakat bisa memanfaatkan pengetahuan “Bagaimana kita bisa makan yang aman baik secara hukum syar’i maupun kesehatan. Jadi tidak hanya halal tapi makanan yang toyyibah” ujarnya.

Sekilas Tentang Universitas Mataram

Universitas Mataram merupakan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di bawah Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi yang berkedudukan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Dalam perkembangannya hingga 2016 ini, Universitas Mataram mengelola pendidikan untuk 9 Fakultas  dan 35 program studi  S1 Reguler, 12 program studi S1 non-reguler, 4 Program Studi D3, 2 Prodi D3 Vokasi KLU, 3 Prodi D3 Vokasi Bima dan 12 program pascasarjana dan 1 program doktor.

Contact Person :

Ir. I Wayan Suadnya, M.Agr.Sc, PhD

Mobile. +62 819 1593 6636

komunikasi@unram.ac.id

 

 

Comments are closed.