Bukan Sekadar Gelar, 41 Apoteker Baru Unram Siap Mengemban Amanah Profesi

Mataram, Universitas Mataram — Gelar apoteker bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan, melainkan awal dari amanah profesi yang menyangkut kesehatan dan keselamatan manusia. Pesan tersebut menjadi benang merah dalam Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Apoteker Angkatan V Tahun Ajaran 2025/2026, Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Mataram (FKIK Unram), yang melantik dan mengambil sumpah 41 apoteker baru pada Selasa, 29 September 2026 bertempat di Hotel Lombok Raya.
Momentum tersebut menandai langkah para lulusan memasuki dunia profesi dengan membawa pengetahuan, keterampilan, sekaligus tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kefarmasian yang aman, berintegritas, dan berorientasi pada masyarakat.
Ketika Ilmu Menjadi Amanah
Wakil Rektor Bidang Akademik Unram, Prof. Dr. Sitti Hilyana, M.Si., menyampaikan bahwa pengucapan sumpah profesi bukan sekadar seremoni. Momentum tersebut menjadi titik ketika ilmu yang diperoleh selama pendidikan berubah menjadi tanggung jawab pengabdian.
“Atas nama pimpinan universitas, saya mengucapkan selamat kepada para apoteker yang hari ini telah menyelesaikan satu tahap penting dalam perjalanan pendidikannya,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa profesi apoteker merupakan profesi kepercayaan. Di balik setiap resep dan obat, terdapat manusia yang menaruh harapan pada kesembuhan dan kualitas hidupnya.
Karena itu, para apoteker tidak cukup hanya menguasai ilmu dan keterampilan, tetapi juga perlu memahami manusia yang mereka layani.
“Pengetahuan menjadikan Saudara kompeten. Keterampilan menjadikan Saudara handal. Tetapi kejujuran dan integritaslah yang membuat Saudara layak dipercaya,” tegas Prof. Sitti.
Ia berpesan agar para apoteker menjaga nama baik keluarga, almamater, dan kehormatan profesi di mana pun mereka mengabdi baik di apotek, rumah sakit, industri, pemerintahan, pendidikan, penelitian, maupun bidang lainnya.
“Jadilah apoteker yang ilmunya kuat, karakternya teguh, dan pelayanannya manusiawi,” pesannya.
Menjawab Tantangan Kesehatan di NTB
Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unram, Dr. dr. Arfi Syamsun, Sp.KF., M.Si.Med., mengingatkan bahwa karakter wilayah kepulauan menghadirkan tantangan tersendiri dalam pelayanan kesehatan. Karena itu, kompetensi yang telah dimiliki para apoteker perlu terus dikembangkan agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah.
Ia meyakini para apoteker baru telah dibekali keahlian dan kemampuan untuk menghadapi tantangan tersebut. Namun, pendidikan profesi tidak seharusnya menjadi titik akhir.
Para lulusan didorong untuk terus memperbarui ilmu dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pesan ini sekaligus menjadi bagian dari arah pengembangan keilmuan Farmasi di FKIK Unram, termasuk rencana pengembangan program magister dan doktor Farmasi.
FKIK Unram juga tengah mempersiapkan pengajuan akreditasi internasional bagi Program Studi Farmasi dan Program Studi Profesi Apoteker sebagai bagian dari penguatan mutu dan daya saing akademik.
Arfi menyampaikan bahwa berbagai rencana tersebut mendapat dukungan dari Universitas Mataram, termasuk melalui penguatan sarana dan prasarana seperti pembangunan gedung baru FKIK.
“Silakan terus memperbarui ilmu dan melanjutkan pendidikan. Jangan berhenti pada gelar apoteker,” pesannya.
Ia juga mengingatkan para lulusan untuk selalu menjalankan praktik sesuai ketentuan dan tidak melakukan praktik tanpa izin.
Tiga Pesan untuk Menjaga Kehormatan Profesi
Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Nusa Tenggara Barat, apt. Drs. Agus Supriyanto, menyebut pengambilan sumpah sebagai gerbang awal pengabdian seorang apoteker.
Ia menyampaikan tiga pesan kepada 41 apoteker baru.
Pertama, menjaga kode etik profesi. Apoteker harus menjadikan kode etik sebagai pedoman dalam menjalankan profesi, dengan tetap jujur, santun dalam berkolaborasi, dan tegas dalam menjaga kepentingan pasien.
Kedua, tidak pernah berhenti belajar. Gelar apoteker merupakan titik awal untuk terus mengembangkan kompetensi, mengikuti perkembangan ilmu, serta beradaptasi dengan regulasi dan kebijakan kesehatan.
Ketiga, hadir untuk masyarakat NTB.
“Masyarakat NTB membutuhkan saudara-saudara. Jadilah apoteker yang selalu hadir di tengah masyarakat, sehingga kehadiran dan manfaatnya benar-benar dirasakan,” pesannya.
Sumpah yang Tidak Berhenti di Lisan
Mewakili para apoteker yang dilantik, apt. Muhammad Arif Ramadhan, S.Farm., mengingatkan bahwa gelar apoteker yang dicantumkan di belakang nama membawa tanggung jawab yang besar.
Baginya, sumpah profesi bukan sekadar lafaz yang diucapkan dalam satu prosesi, tetapi komitmen yang harus dibawa dalam setiap keputusan dan praktik sebagai apoteker.
Sumpah tersebut mengandung tanggung jawab untuk mengabdikan ilmu kefarmasian bagi kemanusiaan dan menjalankan profesi tanpa membedakan kebangsaan, agama, suku, maupun kedudukan sosial.
“Saya harapkan lafal sumpah itu tidak berhenti di mulut, tetapi meresap ke dalam diri,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perjalanan hingga menjadi apoteker tidak pernah ditempuh seorang diri. Di balik keberhasilan setiap lulusan terdapat keluarga, dosen, pembimbing, dan orang-orang yang memberikan dukungan serta kepercayaan sepanjang perjalanan pendidikan.
Membawa Gelar Menjadi Pengabdian
Pelantikan dan pengambilan sumpah 41 apoteker baru Unram menjadi penanda dimulainya perjalanan profesi yang lebih luas. Setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan, para lulusan kini membawa ilmu dan sumpah profesi ke tengah masyarakat.
Bagi Unram, keberhasilan tersebut tidak berhenti pada lahirnya lulusan baru, tetapi menjadi bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi untuk terus memperkuat pendidikan kefarmasian, mengembangkan keilmuan, dan menyiapkan tenaga kesehatan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Sementara bagi para apoteker baru, gelar yang disandang hari ini membawa pesan yang lebih besar: terus belajar, menjaga integritas, dan memastikan ilmu kefarmasian memberi manfaat bagi kemanusiaan.
Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang apoteker bukan hanya tentang gelar atau jabatan, tetapi tentang seberapa jauh kehadirannya dapat membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.

