Dari Jaje Tujak hingga Inovasi Terasi Ikan Kembung, Dua Inovasi Mahasiswa Unram Bawa Pangan Lokal Lombok ke Panggung KMI Expo XVII

Published On: 30 September, 2026By Tags: , , ,

Mataram, Universitas Mataram — Pangan lokal tidak harus berhenti sebagai produk tradisional. Di tangan mahasiswa, kekayaan bahan dan kuliner daerah dapat diolah menjadi produk baru dengan nilai tambah, kemasan yang lebih modern, dan peluang pasar yang lebih luas. Semangat tersebut dibawa dua tim mahasiswa Universitas Mataram (Unram) dalam Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo XVII 2026 di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Jawa Tengah, 29 September–1 Oktober 2026.

Tahun ini, Unram diwakili TuChips (Chips Jaje Tujak) dan TEKEMBUNG (Terasi dengan Ikan Kembung) pada kategori Makanan dan Minuman Tahapan Bertumbuh. Keduanya menjadi bagian dari 395 kelompok usaha mahasiswa dari 219 perguruan tinggi yang terpilih mengikuti ajang nasional yang diselenggarakan melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

KMI Expo menjadi ruang bagi para wirausaha mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk memperkenalkan produk, bertukar pengalaman, membangun jejaring, sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan mentor, investor, dan pemangku kepentingan industri.

Mengubah Jaje Tujak Menjadi Oleh-Oleh yang Lebih Praktis

Tim TuChips yang beranggotakan Citra Bela Qur’ani dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Nayla Azzra Syafitri dari Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri (FATEPA), serta Indi Abida Firdaus dari FEB, di bawah bimbingan Rini Nofrida, S.TP., M.Si.

Inovasi ini berangkat dari jaje tujak, jajanan tradisional khas Lombok yang memiliki cita rasa autentik tetapi bertekstur lembap sehingga memiliki daya simpan relatif pendek. Kondisi tersebut membuat jaje tujak kurang praktis untuk dibawa sebagai oleh-oleh dan membatasi jangkauan pemasarannya.

TuChips mengolah jaje tujak menjadi keripik yang renyah dengan daya simpan lebih panjang dan kemasan yang lebih praktis. Produk ini hadir dalam varian Original dan Ayam Taliwang, sementara pengembangan varian rasa baru terus dilakukan untuk menyesuaikan preferensi konsumen.

Inovasi tersebut tidak hanya mempertahankan identitas jaje tujak, tetapi juga memberikan bentuk baru yang lebih sesuai untuk pasar oleh-oleh. Dengan demikian, produk tradisional Lombok memiliki peluang untuk menjangkau konsumen yang lebih luas sekaligus meningkatkan nilai tambahnya.

Bagi tim TuChips, proses tersebut menjadi contoh bagaimana kreativitas dan inovasi dapat berjalan bersama upaya menjaga kuliner lokal.

Mengangkat Potensi Perikanan melalui TEKEMBUNG

Sementara itu, TEKEMBUNG dikembangkan oleh Laela Ardo, Fitri Idayanti, Nurfatin Zalila, dan Yatmi Hijayanti dari FATEPA dan Heni Sepira dari FEB, dengan bimbingan Firman Fajar Perdhana, S.Si., M.Biotech.

TEKEMBUNG merupakan inovasi terasi berbahan dasar udang rebon dan ikan kembung yang dikembangkan dengan memperhatikan higienitas, kandungan protein, dan penggunaan bahan tanpa pengawet.

Produk ini berangkat dari potensi hasil perikanan Indonesia, termasuk sumber daya ikan yang tersedia di Lombok. Bahan pangan yang sebelumnya dijual atau dimanfaatkan dalam bentuk segar diolah menjadi produk yang lebih praktis dengan nilai tambah lebih tinggi.

Selain meningkatkan nilai guna bahan baku, TEKEMBUNG dikembangkan melalui penguatan cita rasa, kandungan gizi, serta desain kemasan yang lebih modern. Inovasi tersebut juga diarahkan untuk memperkenalkan terasi sebagai salah satu produk khas Lombok kepada pasar yang lebih luas.

Melalui TEKEMBUNG, mahasiswa tidak hanya mengembangkan produk pangan, tetapi juga belajar melihat sumber daya lokal dari perspektif kewirausahaan: bagaimana bahan yang tersedia di daerah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing.

Membawa Semangat dan Prestasi Tahun Lalu ke Panggung Nasional

Kehadiran TuChips dan TEKEMBUNG di KMI Expo XVII menjadi bagian dari perjalanan pembinaan mahasiswa melalui P2MW. Seluruh peserta telah melalui tahap Penilaian Kemajuan Pelaksanaan (PKP) dan proses seleksi sebelum terpilih untuk mengikuti ajang nasional tersebut.

Bagi Unram, keikutsertaan tahun ini juga membawa semangat dari capaian pada penyelenggaraan sebelumnya. Prestasi yang berhasil diraih tahun lalu menjadi pijakan sekaligus motivasi bagi mahasiswa untuk kembali tampil, membawa pulang medali, dan mencatatkan capaian yang lebih baik.

KMI Expo XVII 2026 mengusung tema “Wirata Berkarya Inovatif, Berakar Lokal, Berdampak Global” dengan rangkaian kegiatan pameran dan gelar produk, KMI Award, talkshow kewirausahaan, perlombaan, kirab budaya, collaborative matching, serta sarasehan.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unsoed, Roy Andreas, S.Si., M.Si., Ph.D., dalam laporan kegiatan menekankan pentingnya jejaring bagi mahasiswa. KMI Expo diharapkan tidak hanya menjadi ruang untuk menghasilkan gagasan dan produk terbaik, tetapi juga mempertemukan mahasiswa dengan berbagai pihak untuk membangun jejaring yang akan berguna dalam perjalanan kewirausahaan mereka.

Plt. Rektor Unsoed, Prof. Dr. Ali Rokhman, M.Si., menyampaikan bahwa KMI Expo menjadi sarana untuk menghasilkan inovasi bernilai tambah dengan memanfaatkan sumber daya dan kearifan lokal. Ia juga menekankan pentingnya perspektif manajerial, sistem informasi, dan literasi digital agar kewirausahaan mahasiswa dapat berkembang sesuai kebutuhan masa depan.

“Insan Indonesia harus tetap berakar lokal budayanya, tetapi kita harus berkiprah global dan berdampak secara global,” ujarnya.

Bagi mahasiswa Unram, panggung KMI Expo bukan hanya tempat memamerkan produk, tetapi juga ruang untuk membuktikan sejauh mana inovasi yang mereka bangun mampu bersaing di tingkat nasional. Dari jaje tujak hingga ikan kembung, dua inovasi ini membawa cerita yang sama: bahwa potensi lokal dapat diolah menjadi nilai, dan mahasiswa Unram siap membawanya lebih jauh.

Dengan semangat mempertahankan capaian tahun lalu sekaligus membuka peluang untuk prestasi yang lebih tinggi, TuChips dan TEKEMBUNG membawa nama Unram, membawa potensi Lombok, dan membawa harapan untuk kembali pulang dengan prestasi.

Dari pangan lokal, mahasiswa menciptakan nilai. Dari inovasi, mereka membangun usaha. Dan dari panggung nasional, mereka membawa nama Lombok untuk bersaing lebih jauh.