Dari Lombok ke Canberra, Dr. Nurliah Bawa Riset Pesisir Inklusif ke Forum Akademik Internasional

Mataram, Universitas Mataram — Dari tradisi madak hingga potensi makroalga pangan yang belum banyak dimanfaatkan, riset tentang masyarakat dan sumber daya pesisir Lombok mendapat ruang untuk dibicarakan di lingkungan akademik internasional. Kesempatan tersebut diperoleh Dr. Nurliah, S.Pi., M.Si., dosen Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram), melalui KONEKSI Visiting Fellowship The Australian National University Indonesia Project di Canberra, Australia.
Dr. Nurliah mengikuti program tersebut selama lebih dari satu bulan, mulai 4 September hingga 6 Oktober 2026, di Australian National University (ANU). Program fellowship ini memberikan kesempatan kepada akademisi untuk memperkuat metodologi penelitian, mengembangkan kemampuan komunikasi akademik melalui presentasi dan diskusi ilmiah, serta mendorong pengembangan hasil penelitian menuju publikasi.
Selama berada di ANU, Dr. Nurliah tidak hanya mengikuti kegiatan akademik, tetapi juga membawa hasil penelitiannya ke sejumlah forum dan membuka ruang pertukaran gagasan dengan peneliti dari berbagai disiplin ilmu.
Membawa Riset Lombok ke Forum Akademik ANU
Salah satu pengalaman penting selama fellowship adalah kesempatan mempresentasikan penelitian dalam Postgraduate Workshop di ANU. Dalam forum tersebut, Dr. Nurliah memaparkan penelitian berjudul “The ‘Madak’ Tradition and Marine Resource Sustainability in West Nusa Tenggara, Indonesia: Insights from University Students.”
Penelitian ini mengangkat praktik tradisional madak dan keterkaitannya dengan pemanfaatan serta keberlanjutan sumber daya laut di Nusa Tenggara Barat, dengan melihat bagaimana tradisi tersebut dipahami dari perspektif mahasiswa.
Kesempatan berikutnya hadir melalui Indonesia Study Group (ISG) Seminar, tempat Dr. Nurliah menjadi presenter dan membagikan penelitian berjudul “Unlocking Underutilized Edible Macroalgae for Inclusive Coastal Food System Transformation: A GEDSI-Based Study in Lombok, Indonesia.”
Riset tersebut melihat potensi makroalga pangan yang belum dimanfaatkan secara optimal dan bagaimana sumber daya tersebut dapat menjadi bagian dari transformasi sistem pangan pesisir yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Pendekatan Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) digunakan untuk melihat bagaimana transformasi tersebut dapat melibatkan kelompok masyarakat secara lebih luas.
Kedua riset tersebut memperkuat keterkaitan penelitian Dr. Nurliah dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Kajian mengenai keberlanjutan sumber daya laut dan pemanfaatan makroalga sebagai bagian dari sistem pangan pesisir turut mendukung Sustainable Development Goal 14: Life Below Water, khususnya melalui penguatan pengetahuan mengenai pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan. Sementara itu, penggunaan perspektif GEDSI dalam pengembangan sistem pangan pesisir yang inklusif turut berkontribusi pada Sustainable Development Goal 5: Gender Equality dan Sustainable Development Goal 10: Reduced Inequalities, dengan mendorong perhatian terhadap kesetaraan dan keterlibatan kelompok yang beragam dalam pembangunan masyarakat pesisir.
Dari Presentasi ke Pertukaran Gagasan
Bagi Dr. Nurliah, fellowship di ANU juga menjadi ruang untuk belajar melalui interaksi langsung dengan peneliti dan akademisi dari berbagai latar belakang keilmuan.
Diskusi yang berlangsung selama program memberikan kesempatan untuk memperoleh perspektif baru terhadap pendekatan penelitian, memperkaya pemahaman metodologis, sekaligus mendiskusikan kemungkinan pengembangan penelitian dan publikasi ilmiah.
Pengalaman tersebut semakin diperluas melalui partisipasinya dalam 43rd Indonesia Update, forum akademik tahunan yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, dan berbagai pihak untuk membahas perkembangan Indonesia dari beragam perspektif.
Selain mengikuti seminar dan diskusi ilmiah, Dr. Nurliah juga berkesempatan mengikuti diskusi dan makan malam bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia. Pertemuan tersebut menjadi bagian lain dari pengalaman fellowship yang memperluas jejaring dan perspektif mengenai isu-isu Indonesia dalam konteks internasional.
Memperluas Jejaring, Menguatkan Riset dari Lombok
KONEKSI Visiting Fellowship The ANU Indonesia Project memberikan pengalaman yang lebih luas dari sekadar presentasi penelitian. Dr. Nurliah memperoleh ruang untuk menguji gagasan melalui diskusi, menerima masukan dari komunitas akademik internasional, sekaligus membangun jejaring yang dapat menjadi pintu bagi pengembangan kolaborasi penelitian di masa mendatang khususnya penelitian mengenai pembangunan inklusif di wilayah kepulauan terpencil dan komunitas pesisir Indonesia, dengan perhatian pada aspek gender, disabilitas, dan inklusi sosial.
Bagi Unram, pengalaman tersebut memperkuat peran akademisi dalam membawa pengetahuan yang tumbuh dari konteks lokal ke ruang akademik global. Riset tentang laut, pangan pesisir, tradisi masyarakat, dan pembangunan inklusif tidak berhenti pada konteks daerah, tetapi dapat menjadi bagian dari percakapan ilmiah yang lebih luas.
Dari Lombok ke Canberra, Dr. Nurliah membawa riset yang berakar pada persoalan lokal ke ruang akademik internasional. Dari sana, pengetahuan, jejaring, dan perspektif baru kembali dibawa untuk memperkuat riset dan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas bagi masyarakat pesisir.
