Dari Pendidikan yang Terhenti hingga Wisuda di Lombok, Sembilan Mahasiswa Myanmar Menuntaskan Studi di Unram melalui beasiswa dari EMPM

Published On: 25 September, 2026By Tags: , , , ,

Mataram, Universitas Mataram — Bagi sembilan mahasiswa asal Myanmar, melanjutkan pendidikan tinggi bukan sekadar persoalan berpindah ruang kelas. Situasi yang tidak menentu di negara asal sempat mengganggu perjalanan pendidikan mereka, membuat kelanjutan studi menjadi tidak pasti. Melalui beasiswa Virtual Top-Up Degree oleh The EU Mobility Programme for Myanmar (EMPM), kesempatan untuk kembali belajar terbuka, memungkinkan para mahasiswa melanjutkan studi di Universitas Mataram hingga meraih gelar sarjana. EMPM merupakan program pendidikan bagi pemuda-pemudi Myanmar yang didanai oleh Uni Eropa yang diimplementasikan oleh DAAD, Campus France, dan Nuffic. Nuffic Southeast Asia bertanggung jawab atas pelaksanaan program beasiswa Virtual Top-Up Degree.

Kesembilan mahasiswa tersebut menempuh pendidikan di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Mataram. Mereka mengikuti perkuliahan secara daring dari berbagai negara, sembari tetap bekerja sebagai tutor, guru, maupun menjalankan aktivitas profesional lainnya. Pendidikan pun berlanjut dalam situasi yang jauh berbeda dari jalur perkuliahan konvensional.

Pada 23 September 2026, perjalanan akademik yang sebagian besar berlangsung dari jarak jauh itu akhirnya berujung di Lombok. Kesembilan mahasiswa hadir secara langsung dalam prosesi wisuda Universitas Mataram, menandai berakhirnya perjalanan panjang mereka dalam menempuh pendidikan di tengah berbagai keterbatasan. Sebagian bahkan menabung selama sekitar satu tahun untuk dapat melakukan perjalanan ke Indonesia dan hadir pada momen yang selama ini mereka perjuangkan dari berbagai penjuru negara.

Menjaga Pendidikan Tetap Berjalan

Bagi Ei Zar Thin, kesempatan melalui EMPM mengembalikan pendidikan yang sempat terputus ke dalam jalurnya. Ia memandang pendidikan sebagai bagian penting dari masa depannya, sekaligus kesempatan untuk kembali melanjutkan cita-cita yang tertunda.

“Datang ke Indonesia bukan sekadar untuk menyelesaikan pendidikan. Ini adalah kesempatan untuk kembali melanjutkan impian yang telah berkali-kali tertunda.”

Pengalaman terhentinya pendidikan juga mengubah cara Nyi Nyi Tar memandang kesempatan belajar. Apa yang sebelumnya dianggap sebagai bagian biasa dari kehidupan kemudian menjadi sesuatu yang sangat bernilai. Baginya, pendidikan tidak lagi semata tentang memperoleh gelar, tetapi juga tentang mengembangkan diri, bertemu dengan orang-orang dari latar berbeda, dan membuka kemungkinan baru untuk masa depan.

Bagi Thandar Aung, kesempatan tersebut juga berkaitan dengan cita-cita yang telah dibangun sejak kecil: menyelesaikan pendidikan tinggi dan menggunakan pengetahuan untuk berkontribusi kepada masyarakat. Ketika pandemi COVID-19 dan situasi di Myanmar mengganggu perjalanan pendidikannya, ia memilih untuk tetap melanjutkan studi.

“Saya memutuskan untuk tidak menyerah pada tujuan saya untuk melanjutkan pendidikan.”

Meski berlangsung secara daring dan dari berbagai negara, proses akademik mereka tetap terhubung dengan lingkungan Unram. Juliet Oo mengingat bagaimana mahasiswa Myanmar diperlakukan sebagai bagian dari komunitas akademik sejak awal perkuliahan. Ketika mereka memutuskan datang ke Lombok untuk wisuda, dosen dan Office of International Affairs turut mendampingi proses persiapan.

Pengalaman tersebut berlanjut ketika mereka tiba di Lombok. Para mahasiswa dari Myanmar mengapresiasi sambutan dan perhatian yang diberikan, Paing Khant Zaw mengingat satu detail sederhana yang menurutnya mencerminkan perhatian terhadap mereka: dosen dan tenaga kependidikan berusaha mengucapkan nama mahasiswa Myanmar dengan benar.

“Mereka berusaha sebaik mungkin untuk mengucapkan nama kami dengan benar.”

Bagi mereka, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keterhubungan akademik dapat tetap dibangun meskipun proses belajar berlangsung dari jarak jauh melalui dukungan dosen, layanan akademik, dan relasi dengan komunitas kampus.

Belajar Melampaui Jarak dan Keterbatasan
Perkuliahan lintas negara juga memperkenalkan pengalaman belajar yang berbeda. Khun Hein Htet Aung melihat pembelajaran di Unram lebih fleksibel dan interaktif dibandingkan pengalaman pendidikan yang lebih tradisional dan berorientasi ujian yang ia kenal sebelumnya. Tutorial, tugas, kegiatan praktis, serta pemanfaatan teknologi menjadi bagian dari proses belajar yang ia jalani.

Pada saat yang sama, perjalanan tersebut membentuk cara mereka melihat kemampuan diri. Aung Minn Khant merefleksikan pengalamannya sebagai proses yang memperkuat pemahamannya tentang resiliensi dan pentingnya memberikan upaya terbaik dalam menghadapi perjalanan yang penuh tantangan.

“Dari pengalaman ini, saya semakin memahami arti ketangguhan dalam diri saya. Saya percaya bahwa ketangguhan membentuk cara kita melangkah ke depan, dan sepanjang perjalanan ini saya berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap proses yang saya jalani.”

Bagi sebagian mahasiswa, kelulusan ini juga menjadi awal dari rencana berikutnya. Myue Eain Cis ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang magister dan membawa pengetahuan yang diperolehnya untuk terus berkontribusi pada pendidikan di komunitasnya.

Perjalanan sembilan mahasiswa Myanmar ini memperlihatkan bahwa keberlanjutan pendidikan dapat dibangun bahkan ketika jalur belajar mereka menghadapi gangguan. Melalui EMPM , pembelajaran di Unram berlangsung lintas negara dan memungkinkan mahasiswa untuk tetap belajar sembari menjalankan kehidupan profesional, hingga akhirnya membawa mereka kembali ke kampus untuk menerima gelar secara langsung di Lombok.

Lebih dari sebuah capaian akademik, pengalaman ini menunjukkan peran pendidikan dalam menjaga kesempatan belajar tetap terbuka bagi mahasiswa yang menghadapi hambatan untuk melanjutkan studinya. Kontribusi tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goal 4: Quality Education, terutama dalam memperluas kesempatan memperoleh pendidikan yang inklusif dan memastikan proses belajar dapat terus berlangsung di tengah berbagai tantangan.