Dosen FKIK Unram Wakili Indonesia pada Global Drowning Prevention Leadership Institute 2026 di Kenya

Mataram, Universitas Mataram – Dari Lombok hingga Mombasa, kontribusi Universitas Mataram dalam isu kesehatan masyarakat hadir di ruang kepemimpinan global. Dosen sekaligus Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Mataram, dr. Muthia Cenderadewi, MPHTM, PhD, mewakili Indonesia dalam Global Drowning Prevention Leadership Institute (GDPLI) 2026 yang diselenggarakan oleh Johns Hopkins International Injury Research Unit (JH-IIRU) dengan dukungan Bloomberg Philanthropies di Mombasa, Kenya, pada 27–31 Juli 2026.

GDPLI merupakan program kepemimpinan global yang dirancang untuk memperkuat kapasitas para profesional dalam menerjemahkan pengetahuan dan bukti ilmiah menjadi kebijakan serta program pencegahan tenggelam yang dapat diterapkan. Program ini menggunakan pendekatan kesehatan masyarakat berbasis sistem (system-based public healthpendekatan ) dan memperkuat kemampuan peserta dalam kepemimpinan, advokasi, strategi komunikasi, serta pengembangan intervensi berbasis bukti.

GDPLI 2026 berlangsung sejak Mei hingga Juli melalui rangkaian pembelajaran dare dan kegiatan tatap muka di Mombasa. Berdasarkan informasi yang tersedia dari penyelenggara, program tahun ini mempertemukan peserta dari berbagai negara dan latar belakang, dengan komponen pembelajaran yang mencakup pencegahan tenggelamnya kapal, faktor risiko dan data, pemikiran sistem , advokasi, serta strategi komunikasi.

Selama mengikuti program, para peserta memperdalam kapasitas untuk memahami pencegahan tenggelamnya persoalan multidisiplin yang membutuhkan keterlibatan lintas sektor. Selain pembelajaran berbasis kasus, rangkaian tatap muka juga dirancang melalui aktivitas interaktif, kerja kelompok, diskusi, dan pengalaman lapangan untuk membantu peserta menerapkan pengetahuan dalam konteks nyata.

Keikutsertaan dr. Muthia memiliki relevansi karakteristik yang kuat dengan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Pencegahan tenggelam tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individu menghadapi risiko di udara, tetapi juga memerlukan edukasi masyarakat, komunikasi risiko, lingkungan yang lebih aman, kesiapsiagaan, kebijakan yang tepat, serta intervensi yang disusun berdasarkan data dan kondisi lokal.

Perspektif tersebut menjadi penting bagi FKIK Universitas Mataram yang berada di Nusa Tenggara Barat, wilayah dengan masyarakat yang memiliki kedekatan erat dengan kawasan pesisir dan perairan. Pengalaman dalam GDPLI 2026 dapat menjadi ruang untuk memperluas wawasan dan jejaring internasional sekaligus memperkuat pendekatan pengembangan pencegahan tenggelamnya yang relevan dengan kebutuhan masyarakat kepulauan dan pesisir.

Keikutsertaan dr. Muthia juga membuka peluang peningkatan kontribusi FKIK Universitas Mataram dalam pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kolaborasi internasional di bidang kesehatan masyarakat. Pengetahuan mengenai kepemimpinan, pemikiran sistem , kebijakan advokasi, komunikasi risiko, serta strategi berbasis bukti yang diperoleh selama program dapat menjadi modal untuk mengembangkan kegiatan akademik dan pengabdian yang semakin responsif terhadap masalah kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Partisipasi tersebut juga mendukung SDG 3: Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik, khususnya melalui penguatan upaya promotif dan preventif untuk mengurangi kematian dan cedera yang dapat dicegah. Pencegahan tenggelam merupakan bagian dari agenda kesehatan masyarakat yang membutuhkan pendekatan lebih luas daripada penanganan setelah kejadian, mulai dari peningkatan literasi kesehatan dan keselamatan, komunikasi risiko, penguatan kesiapsiagaan masyarakat, hingga kebijakan dan intervensi berbasis bukti.

Dalam konteks wilayah kepulauan dan pesisir, pendekatan tersebut menjadi semakin strategis karena upaya menjaga kesehatan masyarakat juga berkaitan dengan kemampuan masyarakat dalam mengenali dan mengelola risiko di lingkungan perairan. Dengan memperkuat kapasitas akademisi pada isu-isu tersebut, perguruan tinggi dapat berperan dalam menjembatani pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan masyarakat serta mendorong solusi kesehatan yang lebih kontekstual dan berkelanjutan.

Kehadiran dr. Muthia dalam GDPLI 2026 menempatkan FKIK Universitas Mataram dalam jaringan global yang fokus pada penguatan kapasitas dan aksi pencegahan tenggelamnya kapal. Dari konteks lokal di Nusa Tenggara Barat hingga forum internasional di Kenya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya membawa perspektif Indonesia ke ruang pertukaran pengetahuan global sekaligus memperkuat kontribusi Unram dalam menghadirkan solusi kesehatan yang relevan bagi masyarakat.