Dr. Astri Ferdiana Jadi International Expert dalam Penguatan Strategi Eliminasi Kusta Bangladesh

Mataram, Universitas Mataram — Mengakhiri penularan kusta membutuhkan lebih dari sekadar target eliminasi, dibutuhkan strategi berbasis bukti, pemantauan lapangan, dan kolaborasi lintas negara. Dalam upaya tersebut, keahlian kesehatan masyarakat dari Universitas Mataram (Unram) turut berkontribusi di Bangladesh. Dr. Astri Ferdiana, dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unram sekaligus Koordinator Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, dipercaya sebagai international expert dalam Joint Monitoring Mission (JMM) on Leprosy in Bangladesh.

JMM berlangsung pada 21–29 September 2026 di sejumlah wilayah terpilih dan Dhaka, Bangladesh, atas undangan National Leprosy Program, Mycobacterial Disease Control (MBDC), Directorate General of Health Services (DGHS), Ministry of Health and Family Welfare, Government of Bangladesh. Misi ini menjadi bagian dari upaya meninjau capaian dan tantangan pelaksanaan strategi nasional eliminasi kusta Bangladesh dalam mendukung target global menuju zero transmission.

Dalam misi tersebut, Dr. Astri berkontribusi sebagai tenaga ahli dari WHO Southeast Asia Regional Office (WHO SEARO). Keterlibatannya mencakup peninjauan pelaksanaan program di lapangan, identifikasi tantangan dalam pengendalian kusta, serta penyampaian masukan untuk memperkuat strategi eliminasi pada tahap berikutnya.

Kusta membutuhkan pengendalian yang berkelanjutan karena keberhasilan eliminasi tidak hanya ditentukan oleh penemuan dan pengobatan kasus, tetapi juga oleh kemampuan sistem kesehatan dalam mendeteksi kasus secara dini, memutus penularan, mencegah disabilitas, dan memastikan masyarakat memperoleh layanan yang tepat. Karena itu, Joint Monitoring Mission menjadi ruang penting untuk melihat bagaimana strategi nasional diterapkan di lapangan dan di mana penguatan masih diperlukan.

Melalui JMM, para ahli bersama tim kesehatan Bangladesh meninjau implementasi program di sejumlah wilayah terpilih. Proses ini mencakup pemahaman terhadap capaian program, tantangan di tingkat lapangan, serta praktik yang dapat menjadi pembelajaran dalam memperkuat upaya eliminasi kusta. Pertukaran pengalaman lintas negara tersebut menjadi bagian dari proses membangun strategi yang lebih adaptif terhadap kondisi dan kebutuhan masyarakat.

Bagi Dr. Astri, keterlibatan ini menjadi ruang untuk menerapkan keahlian kesehatan masyarakat dalam menjawab persoalan kesehatan yang kompleks di luar konteks nasional. Pengalaman tersebut juga mempertemukan pengetahuan akademik dengan praktik pengendalian penyakit di lapangan, sekaligus memperluas jejaring keilmuan dan kolaborasi kesehatan masyarakat di tingkat internasional.

Kontribusi tersebut turut mendukung Sustainable Development Goal 3: Good Health and Well-being melalui penguatan strategi eliminasi kusta, terutama dalam mempercepat deteksi dan pengendalian penularan serta memperkuat akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas. Keterlibatan Dr. Astri menunjukkan bagaimana kapasitas akademisi Unram dapat dihadirkan untuk menjawab tantangan kesehatan masyarakat berbasis bukti, memperkuat sistem kesehatan, dan berkontribusi pada penyelesaian persoalan kesehatan lintas negara.

Melalui peran akademisinya dalam forum internasional, Universitas Mataram terus membuka ruang bagi ilmu pengetahuan untuk bergerak dari kampus ke lapangan, menghubungkan keahlian, bukti, dan kolaborasi untuk menghasilkan kontribusi yang relevan bagi kesehatan masyarakat.