Integrasikan SDGs dalam KKN, Unram Perkuat Pengabdian yang Terukur dan Berdampak

Mataram, Universitas Mataram – Ketika mahasiswa hadir di tengah masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN), program yang dijalankan tidak berhenti pada selesainya sebuah kegiatan. Setiap intervensi diharapkan mampu menjawab persoalan nyata di desa, memberikan manfaat bagi masyarakat, dan meninggalkan perubahan yang dapat terus dikembangkan. Untuk memperkuat arah tersebut, Universitas Mataram (Unram) mulai mengarusutamakan Sustainable Development Goals (SDGs) dalam pelaksanaan KKN.
Langkah ini diwujudkan melalui Sosialisasi Pengarusutamaan Sustainable Development Goals (SDGs) dalam Kuliah Kerja Nyata: Mewujudkan KKN Berorientasi SDGs dan Pelaporan Terintegrasi untuk Universitas Berdampak, yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis (30/7/2026). Kegiatan ini diikuti oleh 1.823 mahasiswa KKN Periode Juli–Agustus 2026, bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan pengelola KKN Unram.
Pengarusutamaan SDGs menjadi bagian dari upaya Unram mengubah cara mahasiswa merancang dan melihat program KKN. Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menentukan program yang dapat dilaksanakan di desa, tetapi terlebih dahulu membaca kondisi, kebutuhan, dan potensi masyarakat, kemudian memetakan tujuan dan indikator SDGs yang paling relevan dengan persoalan tersebut. Dengan cara ini, SDGs tidak ditempatkan sebagai label tambahan pada program, melainkan menjadi kerangka untuk membantu mahasiswa merancang intervensi yang lebih kontekstual dan terarah.
Pendekatan tersebut memungkinkan setiap kelompok KKN memiliki fokus SDGs yang berbeda sesuai dengan realitas wilayahnya. Persoalan kesehatan, misalnya, dapat diarahkan pada tujuan pembangunan yang berkaitan dengan kesehatan; program ketahanan pangan pada tujuan yang relevan dengan pangan; sementara inisiatif pendidikan, pemberdayaan ekonomi, kesetaraan, maupun lingkungan dapat dipetakan pada tujuan SDGs yang sesuai. Seluruh 17 SDGs memiliki peluang untuk menjadi bagian dari KKN, tetapi keterkaitannya ditentukan oleh kebutuhan dan program nyata di masing-masing lokasi.
Proses pemetaan tersebut kemudian diperkuat melalui sistem pelaporan. Mahasiswa dan DPL tidak hanya diminta mencatat kegiatan yang telah dilaksanakan, tetapi juga menunjukkan SDGs yang dituju, persoalan yang diintervensi, program yang dilakukan, penerima manfaat, serta perubahan atau manfaat yang dihasilkan. Dengan demikian, laporan KKN dapat menggambarkan kontribusi program secara lebih spesifik dan menjadi data yang dapat digunakan untuk melihat capaian SDGs Unram.
Penguatan aspek pelaporan menjadi penting karena berbagai program KKN yang memiliki manfaat nyata berpotensi tidak terbaca secara optimal dalam pemetaan capaian SDGs apabila tidak terdokumentasi dengan baik. Karena itu, sosialisasi juga membekali mahasiswa dan DPL dengan kemampuan menyusun laporan kegiatan serta artikel publikasi yang mampu menghubungkan fakta lapangan dengan indikator SDGs secara jelas dan terukur.
Untuk membangun pemahaman tersebut, Unram menghadirkan Prof. Hery Purnobasuki, M.Si., Ph.D., Ketua SDGs Center Universitas Airlangga (UNAIR), yang berbagi praktik pengarusutamaan SDGs dalam KKN, pemetaan program berdasarkan indikator global, serta strategi pelaporan berbasis SDGs. Dari internal Unram, Cahyo Mustiko O. M., ST., MSc., Ph.D. memaparkan refleksi pelaksanaan KKN Unram tahun 2025 berdasarkan data dan dokumentasi kegiatan. Sementara itu, Heavy Nala Estriani, M.Hub.Int., membahas teknik penyusunan laporan dan publikasi KKN agar mampu menyajikan data, fakta, serta capaian program dalam narasi yang kuat dan selaras dengan SDGs. dan M. Sumsanto. S.Pi., M.P. memaparkan panduan penysuanan dan submisi artikel ilmiah pada prosiding dan jurnal wicara desa.
Untuk mendukung efektivitas pembelajaran, peserta mengikuti pre-test pada awal kegiatan dan post-test di akhir sesi. Hasilnya diharapkan menjadi gambaran peningkatan pemahaman mahasiswa dalam mengintegrasikan SDGs ke dalam program kerja, pelaporan, dan publikasi KKN.
Dengan melibatkan 1.823 mahasiswa dalam satu periode, KKN memiliki ruang intervensi yang luas di berbagai desa dengan karakter dan persoalan yang berbeda. Melalui pengarusutamaan SDGs, mahasiswa didorong untuk memetakan kondisi, kebutuhan, dan potensi di lokasi KKN terlebih dahulu, kemudian mengidentifikasi tujuan dan indikator SDGs yang paling relevan dengan program yang dirancang. Dengan demikian, setiap program tidak sekadar diberi label SDGs, tetapi memiliki keterkaitan yang jelas dengan tujuan pembangunan tertentu berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Bagi Unram, proses tersebut merupakan langkah penting untuk membangun KKN yang tidak hanya aktif di lapangan, tetapi juga terarah, terukur, dan terdokumentasi dengan baik. Data dari setiap lokasi KKN dapat menjadi bagian dari pembelajaran institusi untuk melihat persoalan yang dihadapi masyarakat, capaian program, serta ruang perbaikan bagi pelaksanaan KKN berikutnya.
Lebih dari sekadar menyelaraskan program mahasiswa dengan agenda pembangunan global, pengarusutamaan SDGs menempatkan KKN sebagai ruang untuk menghubungkan pengetahuan, kebutuhan masyarakat, dan dampak yang dapat diukur. Mahasiswa datang ke desa untuk memahami persoalan, memetakan kebutuhan, merancang solusi, dan mencatat perubahan yang dihasilkan. Dari proses inilah Unram terus memperkuat KKN sebagai salah satu instrumen nyata dalam mewujudkan semangat Universitas Berdampak.

