Jejak Kemanusiaan di NTT, Mahasiswa Unram Sampaikan Aksi Nyata di Hadapan Mendiktisaintek

Mataram, Universitas Mataram — Bagi masyarakat yang tengah bangkit dari bencana, pemulihan bukan hanya tentang membangun kembali apa yang rusak, tetapi juga memastikan bahwa mereka tidak berjalan sendirian melewati masa sulit. Semangat tersebut menjadi bagian dari langkah mahasiswa Universitas Mataram (Unram) yang hadir di tengah masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), membawa bantuan sekaligus mendampingi proses pemulihan dari dekat.

Kehadiran mahasiswa Unram diwujudkan melalui berbagai aksi kemanusiaan, mulai dari penyaluran donasi, kegiatan belajar bersama anak-anak Desa Gapung, hingga membantu pembuatan shelter bagi masyarakat terdampak. Bagi para mahasiswa, setiap kegiatan menjadi ruang untuk hadir, mendengar, dan memahami kebutuhan masyarakat secara langsung di tengah situasi pascabencana.

Di Desa Gapung misalnya, mahasiswa menghadirkan kegiatan belajar bersama anak-anak sebagai upaya menjaga semangat mereka untuk tetap belajar, bermain, dan bertumbuh di tengah keterbatasan akibat bencana. Sementara melalui pembangunan shelter, mahasiswa turut membantu menyediakan ruang yang dapat digunakan masyarakat dalam menjalani masa pemulihan. Kehadiran tersebut menunjukkan bahwa dukungan pascabencana tidak berhenti pada bantuan material, tetapi juga menyentuh aspek pendidikan, kebersamaan, dan pemulihan kehidupan masyarakat.

Jejak aksi tersebut kemudian mendapat ruang untuk disampaikan dalam agenda Pemetaan Awal dan Konsolidasi Awal Persiapan Kegiatan Mahasiswa Berdampak Program Aksara Mahasiswa di Posko Universitas Katolik St. Paulus Ruteng, Manggarai, pada Kamis (27/8/2026). Kegiatan tersebut berlangsung dalam rangka kunjungan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., ke posko penanganan bencana di NTT.

Dalam kesempatan tersebut, Yoga Alhamid, salah satu mahasiswa Unram mendapat kesempatan pertama untuk menyampaikan laporan kegiatan Tim Relawan Kemanusiaan BEM Unram yang telah dilaksanakan di Kampung Lehot, Desa Ndiwar, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai. Di hadapan Mendiktisaintek, Yoga membawa pengalaman mahasiswa dari lapangan sekaligus memperlihatkan bagaimana gerakan kemanusiaan dapat menjadi bagian dari pembelajaran yang nyata bagi mahasiswa.

Momen tersebut menjadi lebih dari sekadar penyampaian laporan. Pengalaman yang dibawa mahasiswa dari tengah masyarakat menjadi gambaran bahwa pendidikan tinggi memiliki ruang pengabdian yang luas, terutama ketika pengetahuan dan energi mahasiswa diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dalam situasi krisis.

Semangat yang sama juga ditunjukkan Rahmiatun Aulia, mahasiswa FKIP Unram, yang mendapat kesempatan menjadi salah seorang pembaca komitmen percepatan pemulihan pasca gempa bumi di hadapan Mendiktisaintek. Keterlibatan tersebut menjadi simbol bahwa mahasiswa tidak hanya hadir sebagai relawan, tetapi juga mengambil bagian dalam membangun komitmen bersama untuk mempercepat pemulihan masyarakat terdampak.

Sebelum rangkaian kegiatan berakhir, tim relawan mengikuti sejumlah agenda bersama masyarakat dan pemerintah setempat, mulai dari pelepasan secara adat, pembuatan tugu, hingga pelepasan di posko utama kecamatan. Kebersamaan dengan pihak kecamatan, pemerintah desa, dan unsur masyarakat menjadi bagian dari perjalanan yang mempertemukan mahasiswa dengan berbagai pihak yang bersama-sama menjaga proses pemulihan tetap berjalan.

Bagi Unram, pengalaman tersebut menjadi bagian dari semangat Mahasiswa Berdampak bahwa proses belajar tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Ketika mahasiswa turun langsung ke masyarakat, mereka belajar membaca persoalan, membangun komunikasi, bekerja dalam keterbatasan, sekaligus memahami bahwa ilmu pengetahuan memiliki nilai ketika mampu menghadirkan manfaat.

Dari bantuan yang disalurkan, anak-anak yang kembali belajar, shelter yang dibangun, hingga pengalaman yang disampaikan di hadapan Mendiktisaintek, perjalanan mahasiswa Unram di NTT menunjukkan satu hal, kemanusiaan adalah ruang belajar yang nyata. Di sana mahasiswa tidak hanya datang untuk membantu, tetapi juga tumbuh bersama masyarakat dan mengambil bagian dalam perjalanan mereka untuk kembali bangkit.