Perluas Pertukaran Bahasa dan Budaya Korea di Lombok, Unram Resmi Buka King Sejong Institute Mataram 

Published On: 28 August, 2026By Tags: ,

Mataram, Universitas Mataram — Universitas Mataram (Unram) terus memperluas ruang pembelajaran dan pertukaran budaya internasional di Nusa Tenggara Barat melalui peresmian King Sejong Institute (KSI) Mataram, Senin (24/8/2026). Berlokasi di Ruang Sidang Senat, Rektorat Unram, peresmian ini menandai hadirnya pusat pembelajaran bahasa dan kebudayaan Korea pertama di Pulau Lombok sekaligus membuka akses yang lebih luas bagi civitas akademika dan masyarakat untuk mengenal bahasa serta budaya Korea secara terstandar.

Kehadiran KSI Mataram merupakan bagian dari penguatan kerja sama internasional Unram dengan Seoul National University (SNU). Kolaborasi tersebut tidak hanya diarahkan pada pembelajaran bahasa, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat Lombok dengan kebudayaan Korea melalui kegiatan pendidikan, seni, dan pertukaran pengalaman lintas budaya.

Kemitraan Unram–SNU untuk Penguatan Wawasan Global

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unram, Dr. Sujita, S.T., M.T., bersama Wakil Presiden Bidang Pendidikan SNU, Lee Jun-jeong, dan Direktur KSI Mataram, Dr. Baharuddin, M.Hum., menyampaikan apresiasi atas terwujudnya KSI Mataram. Kehadiran lembaga ini diharapkan dapat memperluas wawasan global sekaligus memberikan kesempatan bagi civitas akademika dan masyarakat untuk mengembangkan kompetensi bahasa yang relevan dengan semakin terbukanya hubungan pendidikan dan budaya antara Indonesia dan Korea Selatan.

Peresmian ditandai dengan penyerahan sertifikat penunjukan dan pemotongan pita secara simbolis. Prosesi tersebut turut dihadiri Kepala Kantor Urusan Internasional Unram I Wayan Agus Arimbawa, S.T., M.Sc., Ph.D., Kepala Urusan Kemahasiswaan SNU Na Jong-yeon, serta Direktur Kontribusi Sosial Global SNU Seo Kyo.

Dari Gandrung hingga Arirang, Harmoni Pertunjukan Budaya Dua Negara

Tidak berhenti pada seremoni, pembukaan KSI Mataram juga menghadirkan pertukaran budaya secara langsung melalui pertunjukan seni dari kedua negara. Tari Gandrung khas Sasak yang dibawakan mahasiswi Unram menjadi pembuka, disusul penampilan Pansori dan Binari yang sarat doa keselamatan oleh Kim So-won, lulusan Fakultas Musik SNU.

Interaksi budaya kemudian diperkaya melalui kolaborasi penampilan “Arirang Poetique”, gubahan Profesor Lee Ji-soo dari SNU, yang dibawakan Lee Eun-saem dan Kim So-won bersama para penari mahasiswi Unram. Rangkaian pertunjukan ditutup dengan penampilan bersama melalui lagu Beautiful Country, yang memperlihatkan bagaimana ruang akademik dapat berkembang menjadi ruang perjumpaan dan apresiasi budaya antarmasyarakat.

Membuka Peluang Belajar dan Kolaborasi Internasional

Bagi Unram, kehadiran KSI Mataram memberikan nilai strategis dalam memperkuat internasionalisasi kampus. Akses terhadap pembelajaran bahasa Korea dapat menjadi bagian dari pengembangan kompetensi mahasiswa, sekaligus membuka peluang lebih luas untuk studi, mobilitas, jejaring, dan kolaborasi dengan institusi di Korea Selatan. Pada saat yang sama, keberadaan KSI juga menghadirkan ruang belajar bagi masyarakat umum di Lombok untuk memperoleh pemahaman bahasa dan budaya Korea secara lebih terstruktur.

Kolaborasi ini juga memperkuat kontribusi Unram terhadap SDG 4: Quality Education, melalui perluasan akses terhadap pembelajaran bahasa dan kompetensi lintas budaya yang mendukung pembelajaran sepanjang hayat serta kesiapan generasi muda menghadapi lingkungan global. Di sisi lain, kemitraan Unram dan SNU dalam menghadirkan KSI Mataram turut merefleksikan SDG 17: Partnerships for the Goals, melalui pengembangan kemitraan internasional yang memperluas akses pengetahuan, pertukaran budaya, dan peluang kolaborasi pendidikan.

Dengan hadirnya King Sejong Institute Mataram, Unram tidak hanya menyediakan tempat untuk mempelajari bahasa Korea, tetapi juga membangun ruang perjumpaan antara pendidikan dan kebudayaan Indonesia–Korea di Lombok.

Peresmian KSI yang dilandasi kepercayaan dan kemitraan erat antara kedua institusi ini diharapkan dapat menjadi pijakan utama dalam menghadirkan akses pembelajaran bahasa Korea yang terstandar dan apresiasi budaya yang berkelanjutan di wilayah Lombok, serta semakin banyaknya interaksi akademik dan budaya, serta membuka peluang kolaborasi baru yang dapat memberi manfaat bagi civitas akademika maupun masyarakat.