Profesor Berdampak – Dorong Kemandirian Peternak Desa Nyerot melalui Teknologi Pengawetan Pakan Silase Berdampak Peningkatan Produktivitas dan Kesejahteraan Ternak

Mataram, Universitas Mataram — Setiap hari, peternak di Desa Nyerot, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), harus mencari rumput untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak. Ketergantungan pada hijauan segar menjadi persoalan ketika musim kemarau tiba. Produksi rumput menurun, sementara waktu dan tenaga peternak tetap tersita untuk memastikan ternak memperoleh pakan yang cukup.
Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Program Profesor Berdampak Universitas Mataram (Unram) melalui kegiatan “Adopsi dan Diseminasi Teknologi Pengolahan Pakan dan Pengelolaan Limbah Ternak untuk Peningkatan Ekonomi Peternak di Kabupaten Lombok Tengah.”
Program yang dipimpin Prof. Ir. Yusuf Akhyar Sutaryono, Ph.D. bersama tim: Prof. Dr. Ir. Syamsul Hidayat Dilaga, M.S.; Prof. Ir. Dahlanuddin, M.Rur.Sc., Ph.D.; Dr. Ir. Hermansyah, M.Si.; Prof. Dr. Djumardin, S.H., M.Hum.; Dr. Ir. I Wayan Yasa, S.T., M.T., IPM.; serta Prof. Dr. Ir. Maskur, M.Si. memperkenalkan teknologi pengolahan hijauan menjadi silase kepada Kelompok Ternak “Pantang Mundur”, yang beranggotakan 24 peternak dengan 62 ekor sapi.
Dari Rumput Segar Menjadi Cadangan Pakan
Silase merupakan teknologi pengawetan hijauan melalui proses fermentasi yang memungkinkan pakan disimpan dan digunakan lebih lama. Teknologi ini memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar peternak, seperti rumput gajah, rumput odot, tebon jagung, serta limbah pertanian seperti limbah kedelai.
Dalam pelatihan, hijauan dengan kadar air sekitar 60 persen dicacah sepanjang 5–10 cm, kemudian dicampur dengan molases 3 persen, dedak halus 5 persen, dan probiotik 5 persen dari jumlah molases. Pada 100 kg bahan silase, misalnya, digunakan 3 kg molases, 5 kg dedak, dan 15 ml probiotik. Campuran kemudian dimasukkan ke dalam wadah kedap udara seperti silo, drum tertutup, atau kantong plastik, dipadatkan untuk mengurangi udara, lalu difermentasi selama 7–14 hari.
Silase yang baik ditandai aroma dan rasa asam khas fermentasi, warna hijauan yang masih hijau, tekstur yang tetap terlihat, serta tidak berjamur, berlendir, atau menggumpal. Dengan penyimpanan yang tepat, silase dapat bertahan 1–2 tahun atau lebih, sehingga dapat menjadi cadangan pakan strategis ketika hijauan sulit diperoleh.
“Teknologi pakan bukan hanya tentang menghasilkan pakan, tetapi bagaimana peternak mampu memiliki sistem penyediaan pakan yang mandiri dan berkelanjutan.”
Mengurangi Ketergantungan pada Pencarian Rumput
Penerapan silase mengubah pola penyediaan pakan yang sebelumnya bergantung pada pencarian rumput setiap hari. Hijauan yang melimpah pada musim hujan kini dapat diolah dan disimpan untuk digunakan saat dibutuhkan, termasuk ketika produksi rumput menurun pada musim kemarau.
Cadangan pakan membuat penyediaan pakan lebih terencana sekaligus mengurangi waktu dan tenaga yang harus dikeluarkan peternak untuk mencari rumput. Waktu yang sebelumnya tersita untuk aktivitas tersebut dapat dialihkan untuk kegiatan lain, sementara kebutuhan pakan ternak tetap dapat dipenuhi.
Lebih dari sekadar keterampilan teknis, pendampingan ini mendorong perubahan cara pandang peternak terhadap sumber daya lokal. Rumput yang sebelumnya langsung diberikan kepada ternak kini dapat diolah menjadi pakan yang memiliki masa simpan lebih panjang dan nilai guna yang lebih besar.
Teknologi Pakan, Produktivitas, dan Keberlanjutan
Ketersediaan pakan yang lebih terencana membantu menjaga keberlanjutan produksi ternak, terutama saat terjadi keterbatasan hijauan pada musim kemarau. Upaya tersebut berkontribusi pada Sustainable Development Goal 2: Zero Hunger melalui penguatan sistem pangan berbasis peternakan.
Efisiensi dalam penyediaan pakan juga mengurangi beban waktu dan tenaga peternak serta mendukung pengelolaan usaha yang lebih produktif, sejalan dengan Sustainable Development Goal 8: Decent Work and Economic Growth. Sementara itu, pengolahan dan penyimpanan hijauan memungkinkan sumber daya lokal dimanfaatkan secara lebih efisien, mendukung Sustainable Development Goal 12: Responsible Consumption and Production.
Kemampuan menyediakan cadangan pakan juga memperkuat kesiapan peternak menghadapi perubahan ketersediaan hijauan akibat musim. Dalam konteks tersebut, teknologi silase menjadi salah satu bentuk adaptasi yang mendukung Sustainable Development Goal 13: Climate Action.
Melalui Program Profesor Berdampak, Unram menghadirkan teknologi yang menjawab persoalan nyata dalam keseharian peternak. Di Desa Nyerot, rumput yang sebelumnya harus dicari setiap hari kini dapat diolah menjadi cadangan pakan yang dapat disimpan dan digunakan sesuai kebutuhan.
Perubahan tersebut menjadi langkah menuju sistem peternakan yang lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan dengan sumber daya lokal sebagai bagian dari solusi.
