Profesor Berdampak – Dorong Peternak Desa Nyerot Sulap Limbah Sapi Menjadi Pupuk Bernilai Ekonomi

Published On: 28 September, 2026By Tags: , , , ,

Mataram, Universitas Mataram — Setiap aktivitas peternakan menghasilkan dua sisi: ternak sebagai sumber ekonomi dan limbah sebagai tantangan lingkungan. Di Desa Nyerot, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), feses sapi yang sebelumnya belum dikelola secara optimal kini mulai dipandang sebagai sumber daya yang memiliki nilai manfaat dan ekonomi bagi peternak.

Sebelum adanya pendampingan, kotoran sapi yang dihasilkan dari aktivitas peternakan masih sering dibiarkan menumpuk di sekitar kandang. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu kebersihan lingkungan, menimbulkan bau, serta berdampak terhadap kenyamanan masyarakat yang tinggal di sekitar area peternakan.

Permasalahan pengelolaan limbah ternak tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Program Profesor Berdampak Universitas Mataram (Unram) melalui kegiatan “Adopsi dan Diseminasi Teknologi Pengolahan Pakan dan Pengelolaan Limbah Ternak untuk Peningkatan Ekonomi Peternak di Kabupaten Lombok Tengah”.

Program ini diketuai oleh Prof. Ir. Yusuf Akhyar Sutaryono, Ph.D., bersama tim akademisi: Prof. Dr. Ir. Syamsul Hidayat Dilaga, M.S.; Prof. Ir. Dahlanuddin, M.Rur.Sc., Ph.D.; Dr. Ir. Hermansyah, M.Si.; Prof. Dr. Djumardin, S.H., M.Hum.; Dr. Ir. I Wayan Yasa, S.T., M.T., IPM.; serta Prof. Dr. Ir. Maskur, M.Si.

Melalui program tersebut, tim akademisi Unram memberikan pendampingan kepada Kelompok Ternak “Pantang Mundur” di Desa Nyerot untuk mengembangkan pengelolaan limbah ternak menjadi produk yang lebih bermanfaat dan bernilai ekonomi. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produktivitas ternak, tetapi juga mendorong pemanfaatan limbah sebagai sumber daya baru bagi peternak.

Sebelum dilakukan pelatihan, pengelolaan limbah kandang menjadi salah satu tantangan dalam sistem pemeliharaan ternak tradisional. Limbah yang belum dikelola dengan baik berpotensi menurunkan kualitas sanitasi kandang dan mencemari lingkungan sekitar.

Melalui Program Profesor Berdampak, peternak mulai diarahkan untuk mengelola feses sapi secara lebih terstruktur. Kotoran ternak yang sebelumnya menjadi permasalahan lingkungan dikumpulkan dan dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk kandang kompos (Gambar 2).

Pendekatan ini menjadi bagian dari konsep ekonomi sirkular, yaitu mengubah limbah yang sebelumnya tidak bernilai menjadi produk yang memiliki manfaat dan nilai ekonomi. Feses dan urine sapi yang sebelumnya berpotensi menimbulkan persoalan sanitasi diarahkan menjadi pupuk organik padat maupun pupuk organik cair. Melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan, peternak diberikan pemahaman mengenai cara mengolah feses sapi menjadi pupuk kompos yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian maupun dikembangkan sebagai produk usaha.

Proses pengolahan dilakukan dengan mengumpulkan kotoran sapi pada tempat khusus (Gambar 1), kemudian dilakukan pengelolaan melalui proses pengomposan hingga menghasilkan pupuk organik yang siap digunakan (Gambar 2). Pupuk kompos hasil pengolahan limbah ternak memberikan manfaat ganda bagi kelompok peternak. Selain membantu menjaga kebersihan kandang, produk tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian masyarakat.

Gambar 1. Tempat pengumpulan kotoran ternak Sapi

Gambar 2. Kotoran ternak Sapi setelah diolah menjadi pupuk kompos

Salah satu anggota kelompok menyampaikan bahwa kotoran sapi yang dikumpulkan telah dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman seperti jagung dan padi. Pengolahan kompos tersebut telah dilakukan kelompok sejak sekitar tahun 2010 dan terus dimanfaatkan hingga saat ini. Setelah mendapatkan pelatihan dan pendampingan, peternak mulai memahami bahwa limbah ternak bukan hanya sisa produksi yang harus dibuang, tetapi dapat menjadi sumber pendapatan tambahan.

Pupuk kompos yang dihasilkan dapat digunakan untuk kebutuhan pertanian sendiri maupun dikembangkan sebagai produk yang memiliki nilai jual. Dengan demikian, peternak memperoleh manfaat ekonomi tambahan dari pengelolaan limbah yang sebelumnya tidak termanfaatkan.

Pengolahan pupuk kandang kompos menunjukkan bahwa sektor peternakan tidak hanya menghasilkan produk utama berupa ternak hidup, tetapi juga mampu menghasilkan produk sampingan yang bernilai ekonomi. Melalui konsep ekonomi sirkular, limbah ternak dapat dimanfaatkan kembali sebagai input produksi pertanian.

Perubahan tersebut memberikan dampak terhadap kesejahteraan peternak. Lingkungan kandang menjadi lebih bersih, pengelolaan ternak menjadi lebih tertata, dan peternak memiliki peluang tambahan pendapatan melalui penjualan pupuk kompos (Gambar 3).

Gambar 3. Pengantaran Pupuk Kompos ke Pembeli

Pengelolaan limbah ternak yang lebih baik juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pemeliharaan sapi. Kandang yang bersih dan sistem sanitasi yang baik mendukung kesehatan ternak serta meningkatkan kepercayaan pihak luar terhadap kualitas ternak kelompok. Integrasi antara peternakan, pengelolaan limbah, dan pertanian menjadi pendekatan penting dalam membangun sistem peternakan rakyat yang lebih mandiri dan ramah lingkungan.

Program pengolahan feses sapi menjadi pupuk kompos memiliki keterkaitan dengan beberapa target pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, Pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk kompos merupakan bentuk pemanfaatan kembali limbah sebagai sumber daya. Limbah ternak tidak lagi dipandang sebagai masalah, tetapi menjadi produk yang memiliki nilai guna dan ekonomi melalui pendekatan ekonomi sirkular.

SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim, Pengelolaan limbah ternak yang lebih baik membantu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan serta mendukung sistem peternakan dan pertanian yang lebih berkelanjutan.

SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, Pemanfaatan limbah menjadi pupuk organik membuka peluang ekonomi baru bagi peternak melalui produk yang dapat digunakan maupun dijual sebagai sumber pendapatan tambahan.

SDGs 2: Tanpa Kelaparan, Penggunaan pupuk organik dari hasil pengolahan limbah ternak mendukung pertanian berkelanjutan dengan menyediakan sumber nutrisi alami bagi tanaman pangan seperti jagung dan padi.

Melalui Program Profesor Berdampak, Unram menunjukkan bahwa inovasi teknologi sederhana dapat memberikan perubahan nyata bagi masyarakat. Pengolahan feses sapi menjadi pupuk kompos bukan hanya menjadi solusi terhadap persoalan limbah, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam membangun peternakan rakyat yang produktif, ramah lingkungan, dan memiliki nilai ekonomi.

Dari kandang sederhana di Desa Nyerot, lahir sebuah praktik berkelanjutan: ketika limbah dikelola dengan tepat, maka ia dapat berubah menjadi sumber daya yang memberikan manfaat bagi peternak, pertanian, dan lingkungan.

Penulis: Prof. Ir. Yusuf Akhyar Sutaryono, Ph.D.