Ubah Cara Pandang terhadap Kelor, Erwin Irawan Hadirkan Dampak dari Tanah Kelahiran

Published On: 13 July, 2026By Tags: , , , , ,

Mataram, Universitas Mataram – Di banyak pekarangan di Nusa Tenggara Barat (NTB), pohon kelor tumbuh tanpa banyak mendapat perhatian. Selama bertahun-tahun, tanaman itu lebih sering dipandang sebagai pelengkap halaman, bahkan tak jarang dilekatkan pada berbagai mitos, daripada dikenal karena manfaat ilmiahnya.

Namun bagi Erwin Irawan, kelor menyimpan cerita yang berbeda.

Di balik daun-daun hijau yang dianggap biasa, alumni Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian dan Magister Pertanian Lahan Kering di Pascasarjana Universitas Mataram (Unram) itu melihat sebuah potensi yang belum memperoleh tempat semestinya. Di satu sisi, berbagai penelitian dunia menempatkan kelor sebagai superfood dengan kandungan gizi yang tinggi. Di sisi lain, petani masih menjualnya dengan nilai ekonomi yang rendah. Kesenjangan itulah yang mendorong Erwin mengambil langkah yang kemudian mengubah perjalanan hidupnya.

“Morikai lahir bukan karena saya ingin memiliki sebuah perusahaan, tetapi karena saya melihat sebuah ironi,” ujarnya.

Berbekal ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Universitas Mataram, Erwin mulai mengolah daun kelor menjadi produk yang lebih modern, berkualitas, dan memiliki nilai tambah. Semua berawal dari proses yang sederhana. Dengan modal dan peralatan yang terbatas, ia mengerjakan hampir seluruh tahapan, mulai dari memanen daun, mengeringkan, mengemas, hingga menawarkan produknya dari satu orang ke orang lain.

Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Tantangan terbesar justru bukan soal keterbatasan modal maupun teknologi, melainkan mengubah cara pandang masyarakat. Saat itu, tidak sedikit yang meragukan bahwa kelor dapat berkembang menjadi produk bernilai tinggi dan memiliki masa depan.

Alih-alih menjawab keraguan dengan kata-kata, Erwin memilih menjawabnya melalui karya.

Ia terus belajar, mengikuti kompetisi, melakukan penelitian, menyempurnakan kualitas produk, membangun jejaring kolaborasi, dan menghadirkan inovasi secara berkelanjutan. Baginya, kepercayaan tidak pernah diminta, melainkan dibangun melalui proses yang panjang dan konsisten.

Prinsip tersebut kemudian melahirkan Morikai, bukan sekadar sebuah merek produk olahan kelor, tetapi sebuah gerakan yang mempertemukan petani, peneliti, mahasiswa, UMKM, pemerintah, hingga masyarakat dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

“Saya tidak pernah berusaha menjual teh kelor. Yang saya bangun adalah sebuah cerita, sebuah gerakan, dan sebuah nilai,” katanya.

Bagi Erwin, setiap produk yang sampai ke tangan konsumen membawa cerita yang lebih besar daripada sekadar manfaat kesehatan. Di balik setiap kemasan, terdapat petani yang memperoleh nilai tambah, mahasiswa yang belajar tentang kewirausahaan, kelompok masyarakat yang diberdayakan, hingga penelitian yang terus berkembang untuk mengoptimalkan potensi kelor sebagai komoditas unggulan daerah.

Semangat “bertumbuh bersama” menjadi fondasi perjalanan Morikai. Sejak awal, Erwin melibatkan petani sebagai pemasok bahan baku, memberdayakan kelompok wanita tani dalam proses produksi, membuka ruang magang bagi mahasiswa, serta menjadi tempat belajar bagi banyak anak muda yang ingin mengenal dunia agribisnis dan kewirausahaan.

Hingga kini, puluhan tenaga kerja, petani mitra, mahasiswa magang, relawan, komunitas, dan pelaku UMKM telah menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Secara keseluruhan, ratusan orang pernah berkolaborasi bersama Morikai dalam berbagai kegiatan, mulai dari produksi, penelitian, pelatihan, pemasaran, hingga pemberdayaan masyarakat.

Bagi Erwin, pencapaian itu jauh lebih berarti dibandingkan sekadar angka penjualan.

“Keberhasilan terbesar bukan ketika produk dikenal banyak orang, melainkan ketika manfaatnya benar-benar dirasakan oleh banyak orang,” ungkapnya dalam wawancara eksklusif bersama Humas Unram pada 9 Juli 2026.

Komitmen tersebut terus berkembang seiring pertumbuhan Morikai. Produk-produknya kini dipasarkan ke berbagai wilayah Indonesia melalui jaringan distributor, reseller, marketplace, pameran nasional, hingga pemasaran digital yang didukung sistem distribusi di wilayah barat dan timur Indonesia. Namun, menurut Erwin, keberhasilan terbesar bukanlah luasnya pasar yang berhasil dijangkau.

Yang paling membahagiakan adalah perubahan cara pandang masyarakat terhadap kelor.

Tanaman yang dahulu hanya dikenal sebagai tanaman pekarangan, kini mulai dipandang sebagai komoditas bernilai tinggi, oleh-oleh khas Nusa Tenggara Barat, sekaligus bagian dari gaya hidup sehat. Baginya, perubahan persepsi itulah yang menjadi bukti bahwa sebuah usaha dapat menghadirkan dampak yang melampaui produk yang dihasilkan.

Perjalanan Erwin sendiri tidak pernah berhenti pada dunia usaha. Setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Agribisnis pada 2019, ia melanjutkan studi Magister Pertanian Lahan Kering di Pascasarjana Unram dan lulus pada 2026 sebagai Wisudawan Terbaik. Saat ini, ia tengah menempuh Program Doktor Pertanian Berkelanjutan di almamater yang sama.

Menurutnya, pendidikan bukan sekadar proses meraih gelar, melainkan membentuk cara berpikir untuk menghadirkan solusi atas persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

“Saya meyakini bahwa gelar akademik tidak selesai ketika wisuda, tetapi baru dimulai ketika ilmu tersebut kembali kepada masyarakat dalam bentuk karya, solusi, dan manfaat nyata.”

Bagi Erwin, makna seorang alumni berdampak bukan diukur dari jabatan ataupun besarnya usaha yang dimiliki. Alumni berdampak adalah mereka yang membawa ilmu keluar dari ruang kelas, kembali ke masyarakat, dan menjadikannya sebagai jalan untuk menciptakan perubahan.

Ia berharap semakin banyak generasi muda memilih membangun dari daerahnya sendiri, mengolah potensi lokal, membuka lapangan kerja, dan menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat.

“Kesuksesan bukan diukur dari seberapa tinggi kita berdiri, tetapi dari seberapa banyak orang yang kita ajak untuk bertumbuh.”

Sebab pada akhirnya, warisan terbaik yang dapat ditinggalkan seseorang bukanlah apa yang berhasil dimiliki, melainkan seberapa besar manfaat yang terus hidup melalui karya dan kehidupan orang lain.