ACIAR Agriculture for Tourism (Ag4T): Hubungkan Petani Lokal dengan Ekosistem Pariwisata Berkelanjutan

Published On: 12 Juni, 2026By Tags: ,

Mataram, Universitas Mataram – Pariwisata berkelanjutan tidak hanya dibangun dari keindahan destinasi, tetapi juga dari kekuatan masyarakat dan sistem pertanian lokal yang menopangnya. Di balik setiap hidangan khas yang dinikmati wisatawan, terdapat ribuan petani kecil yang menjaga tradisi, menghasilkan bahan pangan yang menopang pasokan yang menjadi bagian penting dalam keberlanjutan pariwisata. Namun, tidak sedikit dari mereka yang masih menghadapi tantangan dalam mengakses pasar bernilai tinggi yang berkesinambungan.

Menjawab tantangan tersebut, proyek Agriculture for Tourism (Ag4T) hadir untuk memperkuat keterhubungan antara sektor pertanian dan pariwisata melalui kemitraan yang inklusif dan berkelanjutan. Program ini didukung oleh Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR), Adelaide University, Australia dan menggandeng Universitas Mataram  (Unram) sebagai mitra di Wilayah Nusa Tenggara Barat. Sejak tahun 2023, Ag4T bertujuan membangun ekosistem pertanian-pariwisata yang lebih tangguh di Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Utara, dengan memastikan petani kecil menjadi bagian penting dalam rantai nilai yang terus berkembang.

Kunjungan lapangan di Desa Dasan Tereng, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, pada Kamis (11/6), menunjukkan bagaimana Ag4T membangun keterhubungan yang lebih erat antara pertanian dan pariwisata melalui penguatan salah satu komoditas unggulan daerah, yaitu Kangkung Lombok. Sebagai bahan utama plecing kangkung, hidangan ikonik yang merepresentasikan identitas kuliner Pulau Lombok, komoditas ini tidak hanya menyimpan nilai budaya yang kuat, tetapi juga berkembang menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang menopang rantai pasok sektor kuliner dan pariwisata.

Alih-alih mengubah praktik pertanian yang telah diwariskan secara turun-temurun, Ag4T mendorong penguatan sistem yang sudah ada dengan membangun hubungan yang lebih erat antara petani dan pembeli. Melalui pendekatan yang kolaboratif, para petani didampingi untuk memenuhi kebutuhan pasar tanpa meninggalkan karakter dan kearifan lokal yang menjadi keunggulan produk mereka.

Dampak program ini mulai terlihat di tingkat masyarakat. Salah satunya melalui kisah Andre Wahyu Jatnika, petani kangkung yang memulai usahanya dari lahan sederhana pada tahun 2017 dan kini mengelola lebih dari delapan hektare lahan bersama 15 petani mitra. Usaha yang dibangunnya juga melibatkan 34 tenaga kerja, yang sebagian besar merupakan perempuan, serta mampu memasok hingga 50 karung Kangkung Lombok ke Bali setiap harinya. Kisah tersebut menunjukkan bahwa akses pasar yang lebih kuat dapat menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi komunitas lokal.

Rantai nilai yang dibangun Ag4T juga dirasakan langsung oleh pelaku usaha kuliner. Mohammad Najib Roodhi, pemilik Rumah Makan Taliwang 1, menilai ketersediaan kangkung segar berkualitas menjadi kunci dalam menjaga cita rasa otentik plecing kangkung dan berbagai hidangan khas Lombok lainnya. Bagi pelaku usaha, kualitas bahan baku bukan hanya soal bisnis, tetapi juga bagian dari upaya menjaga warisan kuliner dan identitas budaya daerah.

Untuk memperkuat ekosistem tersebut, Ag4T menghadirkan berbagai intervensi, mulai dari uji coba penanganan pascapanen untuk mengurangi kehilangan hasil, pelatihan pencatatan keuangan yang memberdayakan perempuan dalam pengelolaan usaha tani, penyusunan skema kemitraan yang lebih terstruktur antara petani dan pembeli, hingga penyelenggaraan forum bisnis yang mempertemukan petani dengan sektor hotel, restoran, dan katering (HORECA).

Jeremy Badgery-Parker, Project Leader Ag4T dari Adelaide University, menjelaskan bahwa industri pariwisata membutuhkan pasokan produk lokal yang berkualitas, berkelanjutan, dan mampu memenuhi kebutuhan pasar. Namun, tanpa dukungan dan keterhubungan yang kuat dengan sektor pariwisata, petani kecil berisiko kehilangan peluang untuk menjadi bagian dari rantai nilai tersebut.

“Industri pariwisata membutuhkan pasokan produk yang berkualitas dan berkelanjutan. Jika kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh petani lokal, maka pasar akan beralih. Tujuan kami adalah memastikan masyarakat petani dapat tumbuh bersama perkembangan sektor pariwisata dan menjadi pemasok utama bagi industri perhotelan dan kuliner. Pada saat yang sama, kami juga ingin melihat bagaimana keterhubungan antara pertanian dan pariwisata dapat diperkuat kembali, sehingga sektor pertanian mampu mendukung dan tumbuh seiring dengan perkembangan pariwisata,” ungkap Jeremy.

Sementara itu, Prof. Ir. Sri Widyastuti, M.App.Sc., Ph.D., Dosen Universitas Mataram sekaligus Project leader wilayah NTB menegaskan bahwa kolaborasi internasional yang dipadukan dengan pengetahuan lokal mampu menciptakan dampak yang berkelanjutan.

“Kangkung Lombok telah memiliki sertifikasi Indikasi Geografis yang menunjukkan keunikan dan kualitasnya. Melalui proyek ini, kami ingin memperkuat kapasitas petani dalam mengatasi hambatan pasar, membangun kemitraan usaha yang lebih baik, serta memastikan komoditas lokal terus memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat dan ketahanan sistem pangan kita,” jelasnya.

Lebih dari sekadar memperluas akses pasar, Ag4T menghadirkan cara pandang baru bahwa petani bukan hanya pemasok dalam rantai industri pariwisata, melainkan mitra utama dalam menciptakan nilai dan keberlanjutan. Lebih dari sekedar riset, Ag4T menciptakan kemitraan transformatif yang memberdayakan petani kecil untuk tumbuh bersama perkembangan sektor pariwisata Indonesia.

Melalui kolaborasi yang inklusif dan penguatan akses pasar, proyek ini menunjukkan bahwa kesejahteraan dapat dibangun dari potensi lokal. Berawal dari lahan-lahan pertanian di Lombok, Ag4T menghadirkan harapan akan masa depan di mana pertanian dan pariwisata berkembang berdampingan, menciptakan peluang yang lebih luas dan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.