Amanat Perdana Rektor Unram Tekankan Transformasi Birokrasi

Mataram, Universitas Mataram —Universitas Mataram (Unram) melaksanakan upacara awal bulan bersama sivitas akademika pada hari Senin, 6 April 2026 di lapangan Rektorat Unram. Upacara ini dihadiri oleh seluruh jajaran pimpinan universitas, fakultas, lembaga, serta dosen dan tenaga kependidikan di lingkup Unram.
Bertindak sebagai inspektur upacara, Rektor ke-11 Unram, Prof. Dr. Sukardi, M.Pd., dalam amanatnya menyampaikan pentingnya transformasi birokrasi di lingkungan perguruan tinggi menjadi lebih sederhana, responsif, dan berorientasi pada pelayanan.
Ia mengungkapkan bahwa sejak awal masa kepemimpinannya, pihaknya telah membuka kanal “Lapor Rektor” untuk menampung aspirasi dan keluhan, khususnya dari mahasiswa. Dari masukan tersebut, masih ditemukan kendala birokrasi yang dinilai berbelit dan kurang efisien.
“Jangan sampai birokrasi kita terasa seperti drama yang panjang tanpa arah. Prinsip transformasi adalah dari ‘menunggu’ menjadi ‘apa yang bisa saya bantu’, dari ‘berkas belum lengkap’ menjadi ‘kami bantu lengkapi’,” ujarnya saat menyampaikan amanat perdana sebagai Rektor.
Menurutnya, birokrasi tidak boleh hanya sebatas menggugurkan kewajiban administratif, tetapi harus mampu menghadirkan pelayanan yang tulus dan memudahkan seluruh sivitas akademika.
Di bidang pendidikan, ia menegaskan pentingnya memastikan mahasiswa dapat menjalani proses belajar dengan nyaman tanpa terhambat urusan administrasi. Hal serupa juga berlaku bagi dosen dalam kegiatan penelitian.
“Jangan sampai dosen kita yang sudah memiliki ide justru terhambat karena proses administrasi. Karya ilmiah harus lahir dari inspirasi, bukan kelelahan mengurus administrasi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prof. Sukardi juga menyoroti peran perguruan tinggi dalam merespons kebutuhan masyarakat. Ia menekankan bahwa kampus harus hadir lebih cepat dalam memberikan solusi, bukan sekadar datang setelah masalah terjadi. Menutup arahannya, ia menyampaikan bahwa ukuran keberhasilan transformasi birokrasi dapat dilihat dari dampaknya bagi pengguna layanan.
“Jika birokrasi membuat orang bingung, berarti perlu diperbaiki. Tapi jika birokrasi membuat orang tersenyum, artinya kita sudah berada di jalur yang benar,” pungkasnya.

