Pengalaman Global Perkaya Kiprah Rusdi Bastian Ilham dalam Internasionalisasi Unram

Published On: 8 Juli, 2026By Tags: , , , , ,

Mataram, Universitas Mataram – Di balik semakin luasnya jejaring internasional Universitas Mataram (Unram), terdapat peran tenaga kependidikan yang bekerja memastikan setiap proses berjalan lancar. Mulai dari membangun komunikasi dengan mitra luar negeri, mendampingi mahasiswa internasional, hingga membuka peluang mobilitas global bagi sivitas akademika. Salah satunya adalah Rusdi Bastian Ilham, S.Pd., M.Sc., Koordinator Hubungan Masyarakat Kantor Urusan Internasional (KUI) Unram.

Lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Unram ini melanjutkan studi magister International Relations di University of Aberdeen, Skotlandia, Britania Raya pada 2022–2023. Semangatnya untuk terus belajar tidak berhenti setelah menyelesaikan pendidikan. Saat diwawancarai pada Selasa (7/7), Rusdi sedang mengikuti program kunjungan budaya di Boston, Amerika Serikat, termasuk mengunjungi Harvard University untuk memperdalam pemahaman mengenai budaya dan sejarah Amerika Serikat sebagai bagian dari penguatan kompetensinya di bidang Hubungan Internasional.

Saat ini, Rusdi bertanggung jawab mengelola berbagai aktivitas internasional di Unram, mulai dari membangun dan menjaga kemitraan dengan perguruan tinggi maupun institusi luar negeri, mengoordinasikan kunjungan delegasi internasional, mendampingi kerja sama luar negeri, hingga menangani administrasi mahasiswa dan dosen asing, termasuk pengurusan visa, izin belajar, dan izin mengajar.

Selain itu, ia juga mengoordinasikan berbagai program mobilitas internasional bagi mahasiswa dan dosen Unram. Baginya, internasionalisasi bukan sekadar memperbanyak kerja sama atau penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU), tetapi memastikan setiap kerja sama mampu menghadirkan manfaat nyata bagi sivitas akademika.

“Saya percaya bahwa kerja sama internasional tidak hanya dibangun melalui penandatanganan MoU, tetapi juga melalui pelayanan yang baik dan hubungan yang saling percaya,” ujarnya.

Pengalaman hidup dan belajar di luar negeri menjadi bekal berharga dalam menjalankan tugas tersebut. Ia memahami bagaimana rasanya harus beradaptasi di lingkungan baru, menghadapi perbedaan budaya, hingga mengurus berbagai kebutuhan administrasi sebagai mahasiswa internasional. Pengalaman itu membuatnya semakin menyadari bahwa pelayanan yang baik tidak hanya berhenti pada penyelesaian dokumen.

Menurutnya, mahasiswa internasional juga membutuhkan pendamping yang mampu memberikan rasa nyaman selama menjalani studi di Indonesia.

“Saya pernah berada di posisi sebagai mahasiswa internasional. Karena itu saya memahami bahwa mahasiswa asing tidak hanya membutuhkan bantuan administrasi, tetapi juga seseorang yang dapat mereka hubungi ketika menghadapi kesulitan,” katanya.

Dalam kesehariannya, tantangan yang dihadapi tidak sedikit. Perbedaan regulasi antarnegara, budaya, bahasa, hingga ekspektasi dari masing-masing institusi menjadi dinamika yang harus dihadapi. Di sisi lain, mahasiswa Unram yang akan mengikuti program ke luar negeri juga memerlukan pendampingan mulai dari persiapan dokumen, keberangkatan, hingga adaptasi budaya.

Rusdi mengatakan bahwa kunci utama menghadapi berbagai tantangan tersebut adalah komunikasi yang terbuka, pelayanan yang responsif, serta koordinasi yang baik dengan berbagai pihak, baik di lingkungan universitas maupun instansi pemerintah.

“Pelayanan internasional membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan kemampuan membangun komunikasi yang baik. Ketika komunikasi berjalan dengan baik, berbagai kendala biasanya dapat diselesaikan bersama,” jelasnya.

Bagi Rusdi, sosok tenaga kependidikan yang berdampak bukanlah mereka yang hanya menjalankan pekerjaan administratif, melainkan mampu menjadi problem solver, fasilitator, sekaligus penghubung antara sivitas akademika dengan berbagai peluang pengembangan diri.

Di bidang internasionalisasi, ia menilai tenaga kependidikan perlu memiliki kemampuan komunikasi lintas budaya, adaptif terhadap perubahan, serta terus meningkatkan kompetensi agar mampu memberikan layanan yang profesional.

“Yang paling penting adalah memiliki mindset melayani. Ketika kita memberikan pelayanan terbaik kepada mahasiswa, dosen, maupun mitra internasional, secara tidak langsung kita sedang membangun citra positif universitas di mata dunia,” tuturnya.

Semangat tersebut pula yang membuatnya terus termotivasi menjalankan perannya di KUI Unram. Baginya, keberhasilan mahasiswa mengikuti program internasional, kenyamanan mahasiswa asing selama belajar di Unram, hingga berkembangnya kerja sama menjadi program nyata merupakan kepuasan tersendiri.

“Internasionalisasi bukan hanya tentang membawa nama universitas ke tingkat global, tetapi juga membuka lebih banyak kesempatan bagi mahasiswa dan dosen untuk berkembang. Menjadi bagian dari proses itu merupakan motivasi terbesar bagi saya,” ungkapnya.

Ke depan, Rusdi berharap layanan internasional di Unram semakin terintegrasi, mudah diakses, dan berbasis digital sehingga mampu memberikan pelayanan yang lebih efektif dan efisien. Ia juga ingin semakin banyak mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan yang terlibat dalam berbagai program internasional sehingga budaya internasionalisasi tumbuh di seluruh lingkungan Unram.

Menutup wawancara, ia mengajak seluruh tenaga kependidikan untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, serta membangun budaya kolaborasi.

“Apa pun bidang tugas kita, jika dikerjakan dengan profesional, penuh integritas, dan semangat melayani, dampaknya akan sangat besar bagi kemajuan universitas. Saya percaya ketika setiap tenaga kependidikan memberikan pelayanan terbaik dari bidangnya masing-masing, Universitas Mataram akan semakin maju, semakin dikenal di tingkat internasional, dan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat,” tutupnya.