Mataram, Universitas Mataram – Keluarga besar Universitas Mataram (Unram) memperingati Nuzulul Qur’an 1441 H dengan menggelar peringatan nuzulul qur’an secara daring melalui aplikasi Zoom, Sabtu (9/5) pukul 21-22.30 kemarin.

Acara peringatan Nuzulul Qur’an tersebut diisi oleh Dekan Fakultas Pertanian Unram yakni bapak Ir. Sudirman, M.S., Ph.D yang mengangkat tema “Pandangan Al-Qur’an Terhadap Pandemi Covid-19”.

Rektor Unram Prof. Dr. Lalu Husni, SH., M.Hum dalam sambutannya mengatakan, peringatan Nuzulul Qur’an di Unram tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya Unram biasa menggelar acara peringatan Nuzulul Qur’an secara langsung dimalam hari bertempat di masjid Babul Hikmah Unram, maka di tengah pandemi Covid-19 ini peringatan dilaksanakan secara daring.

Namun demikian, Prof. Husni berharap hal tersebut tidak mengurangi kekhidmatan acara momentum peringatan turunnya kitab suci umat islam tersebut.

“Semoga kita dapat mengamalkan Al-Qur’an dalam menjalani kehidupan sehari-hari” pesannya.

Sementara itu Sudirman, memulai pembahasannya dengan memaparkan bahwa umat islam saat ini dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian dalam memahami Al-Qur’an.

“Kelompok pertama adalah orang yang kurang memahami Al-Qur’an” urainya.

Menurutnya, orang-orang yang terkategori kelompok pertama ini adalah orang-orang yang hanya sekedar membaca Al-Qur’an tanpa memperhatikan adab dan tata cara yang benar dalam membacanya (sesuai tajwid).

“Kelompok kedua adalah kelompok orang yang memahami Al-Qur’an tapi masih sedikit” bebernya.

Dia menguraikan kelompok kedua ini adalah orang-orang yang membaca Al-Qur’an dengan benar, sedikit memahami Al-Qur’an namun masih belum tahu cara mengaktualisasikan konsep-konsep dalam Al-Qur’an.

“Terakhir kelompok ketiga yakni orang-orang yang memahami Al-Qur’an dan tahu bagaimana cara mengaktualisasikan konsep-konsep didalamnya, mengamalkannya dan ini lah sejatinya maksud dari Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia (huda linnas)” tegasnya.

“Mengamalkan isi Al-Qur’an tentu dengan ilmu, maka dari sini kita bisa kembali lagi ke ayat yang pertama kali diturunkan yakni Al-‘Alaq ayat 1-5” sambungnya.

Sebab menurutnya, membaca dan menulis adalah pangkal ilmu. Dia juga mengutip perkataan ahli tafsir Ibnu Katsir yang mengatakan bahwa membaca yang dimaksud tidak sekedar membaca ayat-ayat Qauliyah (Ayat-ayat Al-Qur’an) semata namun juga membaca ayat-ayat Kauniyah (tanda-tanda kebesaran Allah pada alam semesta) agar umat islam bisa maju seperti nenek moyang mereka dahulu.

“Apalagi di era industri 4.0 ini kita dituntut untuk memiliki 4K yaitu Kritis, Kreatif, Komunikatif dan Kolaboratif yang keempatnya berbasis pada kemampuan membaca, membaca semua hal” ujarnya.

Dia menjelaskan pula bahwa dalam surat Al-Qasas ayat 1 Allah memerintahkan umat islam untuk mencari pahala negeri akhirat namun juga tidak lupa akan bagian mereka dari kehidupan dunia, memerintahkan mereka untuk berbuat baik dan tidak membuat kerusakan dimuka bumi.

“Ini artinya Allah perintahkan kita untuk membentuk keseimbangan, ya tentu kembali berbekal dengan kemampuan paripurna dalam membaca semua hal tersebut” tambahnya.

Dekan Fakultas Pertanian Unram itu juga menerangkan bahwa fakta kerusakan di dunia saat ini kebanyakan didominasi oleh ulah tangan manusia. Sebagaimana halnya kasus virus corona (Covid-19) yang saat ini, dia memandang juga bahwa hal itu juga dimulai oleh manusia terlepas dari berbagai macam spekulasi apakah memang sengaja dibuat atau tidak.

“Lewat virus ini Allah menegur kita karena telah merusak keseimbangan itu sekaligus juga menantang kita untuk menyiapkan IPTEK untuk menanganinya” tekannya.

Dia berharap melalui momentum Ramadhan dan peringatan Nuzulul Qur’an ini, Al-Qur’an tidak hanya turun dari rak-rak buku umat islam,  tapi juga turun kedalam hati mereka.

“Kita aktualisasikan sesuai dengan disiplin ilmu kita sehingga dampaknya bisa kita rasakan secara nyata” tutupnya.