Mataram, Universitas Mataram – Setelah Kemenkes RI mengkonfirmasi 2 orang WNI positif terinfeksi virus nCovid-19 atau yang lazim dikenal dengan sebutan virus Corona,  Rektor Universitas Mataram (Unram) sigap merespon hal tersebut dengan mengeluarkan surat edaran, Selasa (3/3).

Dalam surat edaran dengan Nomor : 2136/UN.18/TU/2020 tersebut, Prof. Husni menghimbau civitas akademika agar membatalkan dan/atau menangguhkan perjalanan keluar negeri untuk keperluan yang dapat ditunda, terutama ke Negara-negara yang telah terinfeksi nCovid-19 termasuk Negara yang berpotensi terdampak sesuai dengan data yang dikeluarkan oleh WHO dan Kemenkes RI.

“Dosen, Tenaga kependidikan dan Mahasiswa yang baru datang dari luar negeri terutama dari Negara yang terdampak virus Corona, termasuk tamu dan mahasiswa asing, dihimbau agar melakukan pembatasan interaksi dengan orang lain sampai dengan 14 hari sejak kedatangan ke Indonesia” terangnya dalam siaran tertulis itu.

Selain itu, Dia juga menghimbau kepada seluruh civitas untuk melaksanakan Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) dengan mengkonsumsi makanan sehat, mencuci tangan dengan sabun, menghindari pusat-pusat keramaian jika tidak diperlukan dan menggunakan masker selama ada dipusat keramaian.

“Bagi yang merasa kesehatan tubuhnya sedang menurun dihimbau untuk selalu menggunakan masker atau menghindari interaksi dengan orang lain agar terhindar dari kemungkinan terinfeksi virus Corona” katanya.

Melalui surat edaran itu pula Guru Besar Ilmu Hukum itu, menginstruksikan Poliklinik dan Rumah Sakit Unram untuk siap siaga terhadap peluang adanya pasien yang mengidap infeksi virus yang kini sudah mewabah hingga ke-53 negara tersebut.

“Kepada Poliklinik dan Rumah Sakit Unram untuk menyiapkan dan siaga terhadap kemungkinan adanya pasien yang dicurigai atau terdiagnosa dengan infeksi virus Corona” pesannya.

Sementara itu dokter spesialis Telinga, Hidung dan Tenggorokan Unram, dr. Hamsu Kadriyan, Sp. THT., (KL)., M.Kes saat dimintai keterangan mengenai virus asal Wuhan yang sudah masuk ke tanah air itu mengatakan, bila dibandingkan dengan virus SARS/MERS tahun 2003 silam, maka nCovid-19 ini masih lebih ringan.

“Tetapi potensi untuk menjadi lebih parah tetap ada mengingat kejadian di Negara-negara lain perkembangannya sangat cepat” jelasnya.

Lebih jauh Dekan Fakultas Kedokteran Unram itu menjelaskan bahwa virus Corona ini memiliki banyak jenis yang salah satunya menyebabkan SARS dan MERS pada 2003 silam, serta mengatakan bahwa virus nCovid-19 tersebut merupakan jenis yang paling baru ditemukan.

“Pada prinsipnya virus Corona lebih sering menyerang saluran nafas mulai dari  hidung hingga paru-paru. Reaksi berat ringannya tergantung daya tahan tubuh pasiennya. Makin baik daya tahan tubuh kita makin ringan gejalanya” beber dr. Hamsu.

Dokter penerima penghargaan dari Kolegium dokter THT-KL lndonesia pada tahun 2018 lalu itu juga menyebutkan gejala infeksi virus nCovid-19 bisa berupa flu, batuk, dahak kental kekuningan dan pada kasus yang berat bisa sesak nafas hingga menimbulkan kematian.

“Bila ada gejala batuk, demam, pilek setelah kontak dengan pasien (postif virus Corona, red.), sebaiknya memeriksakan diri ke puskesmas atau RS setempat” pungkasnya.