Rawat Hutan
Mataram, Universitas Mataram – Tiga puluh tahun lalu, ketika sebagian besar masyarakat mengenal gaharu hanya sebagai kayu beraroma mahal, segelintir orang mulai melihat pertanyaan yang jauh lebih besar. Mengapa hanya pohon tertentu yang mampu menghasilkan resin bernilai tinggi? Dapatkah proses itu dipahami secara ilmiah? Dan yang lebih penting, mungkinkah kekayaan alam tersebut dimanfaatkan tanpa harus mengorbankan kelestarian hutan? Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi awal perjalanan panjang penelitian gaharu di Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada tahun 1995, almarhum Dr. Parman berdiskusi dengan Kepala Kantor Wilayah Kehutanan NTB saat itu, almarhum Ir. Mursidin. Dari pertemuan itulah tumbuh ketertarikan ilmiah terhadap gaharu, yang kemudian dikembangkan bersama ...
