Mataram, Universitas Mataram – Dalam mengembangkan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan, Universitas Mataram (Unram) bersama Kementerian Pariwisata RI (Kemenpar) menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS). Unram sebagai lembaga yang akan memonitor dan mengawasi implementasi proses ini dan terpilih menjadi Sustainable Tourism Observatory (STO). Untuk ini, Kemenpar kerja sama dengan Unram, sebagai STO di masing-masing daerah. ”Jadi di Indonesia saat ini sudah ada 12 STO,” kata Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama dan Sistem Informasi Yusron Saadi usai kegiatan di Ruang Tunggu Rektor, Senin (5/8).

Dijelaskan dari keseluruhan STO tersebut, lima diantaranya termasuk STO di Unram sudah disebut sebagai International Sustainable Tourism Observatory (INSTO). Jadi STO, kategori WINSTO masih nasional ada 7 STO. Tetapi 5 STO lainnya termasuk di Unram ini sudah kelas dunia,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, daerah NTB dan Unram khususnya sudah dipercaya untuk mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan (Sustainable Tourism). ”Sekarang United Nation Tourism Organization juga sudah mengakui,” tambahnya.

Rektor Unram Prof Lalu Husni mengatakan dengan adanya kerja sama ini jelas akan memberikan bukti kampus pendukung pariwisata. Sebab dalam mengembangkan pariwisata, butuh semua unsur termasuk akademisi yang ada di kampus-kampus. ”Sinergi semua pihak akan mampu mengembangkan dan memajukan pariwisata daerah,” ujarnya.

Kepala Bidang Ekosistem Pariwisata Kementerian Pariwisata RI Khabib Suwayah mengatakan STO ini adalah sebuah strategi yang dilakukan pemerintah Indonesia. Ini untuk memastikan pembangunan kepariwisataan di Indonesia itu dilaksanakan secara berkelanjutan. Berkelanjutan itu artinya, pembangunan pariwisata berdampak positif terkait dengan ekonomi. ”Jadi harus secara ekonomi itu bermanfaat bagi masyarakat dan secara ekonomi itu tidak merugikan,” jelasnya.

Sejak tahun 2016 dibangun STO ini. Muncul ada tiga STO waktu itu. Yaitu STO di Unram, STO di UGM, dan setahun kemudian tahun 2017 menyusul STO di Unud Bali dan STO Usu di Danau Toba. Medan. Kelima STO ini kemudian didaftarkan pada tahun 2017 itu, kelimanya mendapat pengakuan Internasional. ”Jadi kita menjadi STO Internasional dibawah United Nation World Tourism Organitation (UNWTO),” terangnya.

Berdasarkan konsep-konsep keberlanjutan dalam pariwisata ini, akan muncul 41 kriteria keberlanjutan yang terdiri dari 104 indikator. Tugas daripada STO dalam hal ini Unram adalah melakukan monitoring. Kemudian konsultasi, asistensi, evaluasi terhadap destinasi-destinasi pariwisata yang dalam hal ini berada di Lombok.