Mataram, Universitas Mataram – melalui Fakultas Pertanian (Faperta) menggelar seminar nasional (semnas) dan kongres asosiasi biochar Indonesia. Kegiatan ini dalam rangka membangun pertanian sehat untuk mendukung penguatan ketahanan pangan menuju sustainable development goals di era industry 4.0 kini. Agenda ini kerja sama antara Faperta Unram, Asosiasi Biochar Indonesia (ABI), Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI) dan Pemerintah Daerah Provinsi NTB.

Ketua Panitia Seminar Nasional Lolita Endang Susilowati mengatakan seminar ini diikuti 275 orang peserta. Terdiri dari pemda, kampus, mahasiswa, sektor lintas pertanian, dan lembaga lainnya. Acara ini dinilai penting mengingat pengelolaan pertanian untuk meningkatkan kedaulatan dan ketersediaan pangan. Namun ini tidak akan pernah dapat dilepaskan pengelolaan sumber daya lahan termasuk di dalamnya pengelolaan kesehatan tanah. ”Tanah sehat memiliki kualitas kesuburan yang baik dan tidak mengandung bahan senyawa beracun. Sehingga mampu menghasilkan tanaman yang sehat dengan pertumbuhan dan produksi optimum yang tidak membahayakan lingkungan,” terangnya.

Tujuannya semnas ini menyebarluaskan hasil-hasil penelitian dalam pembangunan pertanian sehat dari berbagai aspek yang mendukung terwujudnya ketahanan dan kedaulatan pangan nasional. Ini juga sebagai ajang berbagi pengalaman hasil riset antar ilmuwan, pengambil kebijakan, dan masyarakat pemerhati pertanian sehat. Sehingga terjadi diskusi antar ilmuwan dan pengambil kebijakan (lembaga) yang memungkinkan terwujudnya peluang kerja sama. Pemateri Ketum HITI Prof. Budi Mulyanto, Perwakilan ABI Prof. Didiek Hadjar Goenadi, dan Dosen Pertanian Unram Prof. Suwardji. ”Semoga ini bisa terus berkelanjutan untuk mendukung pertanian sehat era industry 4.0,” imbuhnya.

Sementara itu, Rektor Unram Prof. Lalu Husni mengatakan banyak rekayasa teknologi dan inovasi dari hasil-hasil pertanian peneliti dan ilmuwan yang berkaitan dengan aspek kelestarian sumber daya lahan. Ini termasuk upaya untuk terus menjaga kualitas tanah menunjang pertanian berkelanjutan di berbagai type agroekologi. Oleh karena itu semnas ini bisa untuk sharing pengalaman dan saling tukar informasi inovasi dan hasil penelitian. ”Jadi nantinya dalam hilirisasinya dapat diimplementasikan praktisi dan pengambil kebijakan di bidang pertanian dan lingkungan,” ujarnya.

Ini juga agar hasilnya bisa untuk menunjang jurnal-jurnal kampus. Jadi agar jurnal mahasiswa, dosen, maupun penelitian dari kampus ini bisa terpublikasi. Sehingga ini juga akan membantu dan mendorong akreditasi kampus kedepannya. Ini juga sebagai ajang mahasiswa dan dosen agar menambah wawasannya melalui kegiatan seminar. ”Tentunya kedepannya diharapkan bisa masuk ke jurnal-jurnal internasional maupun jurnal terindeks skopus,” tandasnya.