Mataram, Universitas Mataram – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Mataram (LPPM Unram) menggelar acara Seminar Nasional (SEMNAS) Pengabdian kepada Masyarakat dengan mengusung tema “Inovasi Membangun Desa” di Gedung Dome Unram, Kamis (13/2).

Wakil Rektor I bidang Akademik Unram Agusdin, SE., MBA., DBA mengatakan bahwa SEMNAS tersebut diselenggarakan dalam rangka mendorong produk-produk inovasi  dari  mahasiswa beserta Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang menjalani KKN Tematik periode 23 Desember 2019 hingga 6 Februari 2020 kemarin menjadi produk inovasi yang bermanfaat dan dapat diaplikasikan di masyarakat.

“Karena itu tema-tema KKN yang kita programkan, seperti Produk Olahan, Zero Waste, Pengembangan Desa Wisata, Infrastruktur, Kelompok Usaha Bersama (KUBE), Adminduk dan Kampung KB, tema-tema tersebut diarahkan agar menjadi sarana bagi mahasiswa dan dosen untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat dan menyampaikan hasil-hasil inovasi yang diberikan sehingga bisa memberi nilai tambah” ungkapnya.

Termasuk juga pengembangan desa menuju desa Wisata di daerah Selatan jelas Agusdin, ada 37 Desa wisata yang di program oleh pemerintah Lombok Tengah menjadi desa wisata penyangga KEK Mandalika.

“Karena itu saya sampaikan kepada ketua DPL untuk menjadi target (penempatan KKN mahasiswa, red.), apalagi akan dibuka untuk Moto GP 2021” imbuhnya.

Dia berharap agar produk-produk inovasi hasil KKN tematik Unram  bisa menjadi marketable product sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup serta bisa menaikkan taraf ekonomi masyarakat, memberi nilai tambah dengan indikator masyarakat mengkonsumsi atau memanfaatkan produk tersebut.

Sekertaris Jendral (Sekjen) Kemendes PDTT Anwar Sanusi, Ph.D yang hadir dalam acara sebagai keynote speaker mengatakan bahwa Kemendes, PDTT dan Transmigrasi sejak tahun 2017 menggulirkan anggran milyaran rupiah untuk Program Inovasi Desa (PID). Dia mengatakan bahwa PID hadir sebagai upaya untuk mendorong peningkatan kualitas pemanfaatan dana desa dengan memberikan banyak referensi dan inovasi-inovasi pembangunan desa.

“Tahun 2017 dana yang dikucurkan sebanyak 347, 37 milyar, tahun 2018 sebanyak 409, 99 milyar dan  tahun 2019 sebanyak 353, 88 milyar” urainya.

Dia mengatakan hasil kajiannya di 33 Provinsi bersama 33 Perguruan Tinggi (Pertides) tentang manfaat dana desa dimasing provinsi adalah berimplikasi positif terhadap pembangunan sarana dan prasarana Desa, swakelola bangunan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, peningkatan kemampuan masyarakat dan peningkatan produktivitas pertanian.

“Permasalahan spesifik terletak pada 3 hal yakni 2.275 atau 3% desa belum berlistrik, 13.577 desa belum berinternet atau 18% dan 7.528 desa belum diaspal atau sekitar 11, 58%” jelasnya.

Dia lebih jauh menjelaskan secara spesifik bahwa salah satu solusi yang ditempuh khususnya oleh Kemendikbud adalah dengan menyelenggarakan Kampus Merdeka yang salah satu programnya adalah Proyek di Desa.

“Proyek di desa ini bisa dikerjakan oleh mahasiswa-mahasiswa KKN. Bersama kita gotong-royong membangun desa melalui transformasi ekonomi pedesaan dan edukasi SDM pedesaan” tukasnya.

Hadir dalam acara tersebut sebagai pemateri Wakil Gubernur (Wagub) NTB Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd memaparkan program Pemprov NTB yakni program sinkronisasi menuju inovasi pembangunan desa.

“Program ini meliputi 5 program yaitu revitalisasi Posyandu, Zero waste, NTB Hijau, Desa Wisata dan Industrialisasi” paparnya.

Wagub mengatakan program Posyandu yang saat ini hanya menyasar Ibu hamil, bayi, balita dan anak-anak harus berinovasi menuju Posyandu Keluarga (Family).

“Jadi mulai dari ibu, anak sampai lansia bisa memeriksakan diri di Posyandu dan disinilah peran adik-adik mahasiswa KKN dalam membantu program pemerintah daerah untuk merevitalisasi Posyandu” terangnya.

Program Zero Waste dan NTB Hijau merupakan program yang saling timbal balik. Dia menjelaskan dengan potensi yang dimiliki oleh mahasiswa sebagai generasi muda bisa memanfaatkan limbah sampah menjadi produk olahan yang bernilai ekonomis dengan ide-ide kreatif dan inovatif yang mereka miliki.

“Sampah-sampah organik bisa diolah lagi jadi pakan ternak. Tinggal sampah yang kecil-kecil seperti bekas permen, bekas apa segala macem, bikin ecobric, kalau sudah bikin ecobric pasti mereka akan beli, tapi ecobric syaratnya minimal beratnya harus 200 gram” jelasnya.

Sementara itu Dirjen Kemensos Penanganan Fakir Miskin Wilayah II  bapak I Wayan Wirawan selaku pemateri terakhir menyampaikan bahwa saat ini program prioritas pemerintah dalam menangani fakir miskin fokus pada tiga program utama yakni Bantuan Pangan Secara Non Tunai, Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dan Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni dan Sarana Prasarana Lingkungan.

“Kami Kementrian Sosial sangat berharap peran serta dari kita semua, Ibu Wakil Gubernur, pemerintah kabupaten/kota, bapak/ibu dosen, teman-teman sekalian dan anak-anak ku mahasiswa untuk kita bersama-sama mewujudkan impian menjadikan desa maju” tukasnya.