Mataram, Universitas Mataram – Kedatangan Wakil Presiden Prof. Dr. K.H. Ma’ruf Amin ke Universitas Mataram (Unram) dalam rangka memberikan kuliah umum dengan tema ”Penangkalan Paham Radikalisme di Kalangan Mahasiswa” disambut antusias oleh Mahasiswa Unram yang sejak 1 jam sebelum acara dimulai, sudah memenuhi Gedung Auditorium M. Yusuf Abubakar Unram, Rabu (19/2) siang kemarin.

Tercatat sekitar 1.500 orang Mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi hadir mengikuti acara yang digelar pukul 14.00 WITA itu. Antusiasme mereka dapat dilihat dari penuhnya setiap kursi yang ada pada gedung dengan dua lantai tersebut.

Prof. Ma’ruf Amin membuka kuliah umumnya dengan menjelaskan makna radikalisme dan radikalisasi. Dia menegaskan bahwa radikalisme adalah cara berfikir sedangkan radikalisasi adalah transfer cara berfikir yang menyetujui kekerasan untuk tujuan tertentu.

Setelah memahami proses transfer cara berfikir radikal terorisme, Wapres kemudian mengajak mahasiswa untuk mawas diri dan memastikan bahwa mereka tidak sedang berada dalam proses transfer radikalisme tersebut.

“Dan jika kita melihat atau mengetahui proses transfer tersebut kita dapat menghindari dan menghentikannya” tegasnya.

Lebih jauh dia mengatakan dalam menangani radikalisme ataupun terorisme secara umum, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah menyiapkan framework penanganan radikalisme  dan terorisme yang dibagi kedalam lima kelompok.

“Kelompok pertama adalah kelompok indifferent atau kelompok yang tidak memiliki fikiran atau faham radikal terorisme, tapi mungkin terekspos narasi-narasi radikal terorisme” paparnya.

Kelompok selanjutnya jelasnya adalah kelompok laten yang merupakan kelompok yang diam-diam dalam artian menyetujui tindakan radikal tapi tidak mengekspresikan tujuannya dalam bentuk apapun.

“Cara penanganannya adalah dengan menambah imunitas dengan memperbanyak narasi positif agar tidak mudah menerima fikiran-fikiran radikal terorisme”  jelasnya.

Sementara itu kelompok ketiga terangnya adalah kelompok yang ekspresif atau kelompok yang menyetujui dan mendukung tindakan radikal terorisme dan telah mengekspresikan persetujuan dan dukungannya dalam ruang publik seperti melalui media sosial.

“Kelompok ini dapat dimonitor dan diidentifikasi sehingga seharusnya kita dapat melakukan pendekatan yang humanis pada kelompok ini agar mereka tidak semakin jauh pada pemikiran radikal” terangnya.

Kelompok keempat paparnya adalah involvement group atau kelompok yang sudah mulai terlibat turut serta dalam tindakan-tindakan yang memiliki unsur radikal terorisme.

“Kelompok ini dapat diidentifikasi dan penanganannya dapat dilakukan dengan penegakan hukum dan deradikalisasi” urainya.

Selanjutnya Wapres menerangkan tentang kelompok kelima atau kelompok yang terakhir adalah action group atau kelompok yang telah terlibat aksi terorisme.

“Penanganan kelompok ini adalah dengan penegakan hukum dan deradikalisasi serta bagi korban dilakukan upaya pemulihan pasca krisis”  tegas Wapres.

Orang nomor dua di Indonesia tersebut mengatakan tujuannya meyebutkan framework penanganan radikalisme dan terorisme adalah agar mahasiswa dapat memahami tahapan perubahan seseorang yang tadinya tidak memiliki pemikiran radikal perlahan-lahan mengalami brain wash melalui proses radikalisasi sehingga dapat menjadi pelaku terorisme.

“Dengan memahami framework ini kalangan kampus diharapkan dapat membantu dalam melakukan penangkalan radikalisme dan terorisme” katanya.

Dia juga menjelaskan bahwa saat ini pemerintah terus memperkuat upaya kontra radikalisasi agar masyarakat memiliki imunitas terhadap pemahaman radikal terorisme.

“Upaya juga dilakukan melalui dua cara yakni dengan moderasi beragama dan juga dengan memperkuat komitmen kebangsaan atau wawasan kebangsaan” beber Prof. Ma’ruf Amin.

Namun demikian, dia menegaskan bahwa upaya-upaya tersebut melibatkan berbagai kementrian, lembaga, organisasi kemasyarakatan serta dilakukan dari hulu hingga ke hilir.

“Saya berkeyakinan upaya penanggulangan radikal terorisme dari hulu ke hilir harus dimulai dari pendidikan. Karena itu peran lembaga pendidikan termasuk kampus sangat penting” tekannya.

“Saya harapkan kampus ini dapat menyampaikan lebih banyak narasi-narasi tentang toleransi atau kerukunan, sikap cinta kepada sesama, nasionalisme dan patriotism dalam bela negara” tutupnya.