Mahasiswa Unram Terapkan Sistem Monitoring Suhu, pH, dan Salinitas Berbasis IoT pada Habitat Anggur Laut

Mataram, Universitas Mataram — Mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Mataram (Unram) menghadirkan inovasi teknologi berbasis Internet of Things (IoT) untuk memantau kualitas air pada habitat anggur laut (Caulerpa sp.). Melalui kegiatan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Kawasan Sains Kurnaen Sumadiharga BRIN, Pusat Riset Bioindustri Laut dan Darat, Lombok Utara, sejak Februari hingga Juli 2026, mahasiswa tidak hanya memadukan teknologi digital dengan bidang kelautan, tetapi juga merancang sistem monitoring real time yang modern, praktis, dan efisien. Inovasi ini menjadi langkah nyata dalam mendukung pengembangan budidaya anggur laut sekaligus memperkuat penerapan teknologi kelautan yang berkelanjutan.

Kegiatan MBKM ini dilaksanakan oleh Effi Mujahidah Saniyyah, dengan bimbingan lapangan Novi Arisman, S.Pd., M.I.L., M.Sc., Ph.D., serta dosen pembimbing Dr. Nurliah, S.Pi., M.Si. Dalam pelaksanaannya, Saniyyah merancang alat monitoring yang mampu membaca parameter kualitas air secara real time melalui jaringan internet, sehingga sistem ini dapat memberikan data akurat dan mendukung pengelolaan budidaya anggur laut secara lebih modern dan efisien.

Pengerjaan alat dimulai pada 2 Mei 2026 dengan tahap persiapan komponen utama dan perancangan sistem IoT. Pada tahap awal, Saniyyah mempersiapkan berbagai komponen elektronik seperti mikrokontroler ESP32 DevKit V1, sensor suhu DS18B20, sensor pH meter, sensor salinitas, breadboard, kabel jumper, serta perangkat pendukung lainnya yang digunakan dalam sistem monitoring.

Perancangan sistem dilakukan karena kualitas perairan merupakan faktor krusial yang menentukan keberhasilan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan dan merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan anggur laut (Caulerpa sp.). Parameter seperti suhu, pH, dan salinitas sangat menentukan kondisi habitat budidaya. Perubahan kualitas air yang tidak stabil dapat mempengaruhi pertumbuhan hingga produktivitas anggur laut sehingga diperlukan sistem monitoring yang mampu melakukan pemantauan secara lebih cepat dan efisien.

Tahap selanjutnya, yaitu proses pengkabelan dan pemrograman alat menggunakan Arduino IDE agar seluruh sensor dapat terhubung dengan mikrokontroler ESP32. Sistem dirancang agar mampu membaca kondisi kualitas air secara otomatis dan mengirimkan data hasil monitoring melalui jaringan internet sehingga dapat dipantau menggunakan handphone.

Cara kerja alat dimulai dengan penempatan sensor suhu, pH, dan salinitas pada media perairan. Sensor-sensor tersebut secara langsung membaca kondisi kualitas air, kemudian data hasil pembacaan diterima oleh ESP32 sebagai pusat pengendali sistem. Setelah diproses, data dikirim melalui koneksi WiFi sehingga pengguna dapat memantau kondisi suhu, pH, dan salinitas secara realtime melalui perangkat smartphone.

Sebelum digunakan di lapangan, sensor pH terlebih dahulu dikalibrasi menggunakan larutan buffer pH 4,01; 6,86; dan 9,18. Proses kalibrasi ini dilakukan untuk memastikan tingkat akurasi sensor tetap terjaga sehingga hasil pengukuran kualitas perairan laut dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan.

“Kalibrasi dilakukan agar data yang dibaca sensor lebih stabil dan sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan,” ungkap Saniyyah.

Setelah tahap kalibrasi selesai, pengetesan alat dilakukan untuk pertama kalinya pada 25 Mei 2026 di perairan laut sekitar kantor BRIN Lombok. Pengujian dilakukan dengan menempatkan sensor secara langsung ke dalam air laut untuk mengetahui kemampuan alat dalam membaca parameter kualitas air secara realtime. Dari hasil pengujian tersebut, alat berhasil membaca nilai pH sebesar 8,4 dengan nilai salinitas mencapai 33 ppt serta suhu 29,9 C. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sistem monitoring berbasis IoT mampu bekerja dengan baik dalam mendeteksi kondisi kualitas air laut.

Pada tanggal yang sama, Saniyyah juga melakukan percobaan alat pada media budidaya anggur laut jenis Caulerpa Lentillifera. Pengujian dilakukan dengan menempatkan sensor pada area budidaya untuk mengetahui kondisi kualitas air pada habitat budidaya secara langsung. Melalui percobaan tersebut, sistem monitoring mampu membaca kondisi suhu, pH, dan salinitas pada media budidaya secara realtime. Data hasil monitoring kemudian dikirim melalui jaringan internet dan ditampilkan pada handphone sehingga memudahkan proses pemantauan tanpa harus melakukan pengecekan manual secara terus-menerus.

Saniyyah menjelaskan bahwa suhu, pH, dan salinitas merupakan parameter penting dalam pertumbuhan Caulerpa Lentillifera. Suhu yang terlalu tinggi dapat menghambat pertumbuhan anggur laut, sedangkan kondisi pH dan salinitas yang tidak stabil dapat mempengaruhi kualitas habitat budidaya.

Selain berfungsi untuk memantau kualitas air, sistem berbasis IoT ini diharapkan mampu mendukung pengelolaan budidaya anggur laut yang lebih modern dan efisien. Dengan teknologi monitoring real time, perubahan kondisi perairan dapat terdeteksi lebih cepat sehingga penanganan terhadap kualitas habitat dapat dilakukan secara optimal.

Rangkaian sistem monitoring yang digunakan terdiri atas ESP32 DevKit V1 sebagai pusat pengendali, sensor suhu DS18B20, sensor pH meter, sensor salinitas, breadboard, kabel jumper, serta modul WiFi bawaan ESP32. Seluruh sistem dirancang dan diprogram agar mampu bekerja secara otomatis dalam membaca dan mengirimkan data monitoring.

Melalui program MBKM ini, mahasiswa Unram memperoleh pengalaman langsung dalam teknologi dan instrumentasi kelautan dengan penerapan Internet of Things (IoT) pada sektor budidaya perairan. Kegiatan ini menjadi bentuk pembelajaran berbasis praktik yang mendorong lahirnya inovasi teknologi sekaligus memperkuat pengembangan riset di bidang kelautan.

Ke depan, sistem monitoring berbasis IoT ini diharapkan dapat diterapkan lebih luas pada habitat budidaya maupun alami anggur laut (Caulerpa sp.). Selain membantu menjaga kestabilan habitat budidaya, teknologi ini mendukung pemantauan kualitas perairan secara efektif, akurat, dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan produktivitas, menekan risiko kegagalan panen, serta menjaga keberlanjutan ekosistem. Dampaknya langsung terasa bagi masyarakat pesisir melalui peningkatan kesejahteraan dan penguatan daya saing produk lokal di pasar nasional maupun internasional.